gaya hidup, perjalanan, reportase, Review, travelling

Sebuah Cerita Tentang Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020: Dari Seminar On The Road, Jelajah Bandara, hingga Lepas Tukik

Upacara peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020. (Dokumentasi pribadi)

Jadi, pada hari Minggu, 27 September 2020 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti rangkaian acara Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Bantul. Ga hanya saya doank loh ya, tapi juga bersama dengan beberapa pelaku pariwisata lainnya di Kabupaten Bantul. Seperti perwakilan pengelola desa wisata di Kabupaten Bantul, perwakilan pengelola homestay di Kabupaten Bantul, duta wisata Kabupaten Bantul, serta tentunya travel blogger dan influencer Yogyakarta dan Bantul (Kak Agata Vera, Kak Nuzulul, dan saya).

Meriahnya Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020

Rangkaian acara dari Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020 ini terdiri atas beberapa mata acara. Yang pertama adalah seminar on the road dengan tema Pranatan Anyar Plesiran Jogja dengan nara sumber Bapak V. Hantoro, ST, yang merupakan Ketua DPD Organda, sekaligus pemilik dari PO. Bus Gelis Gede Maju Mandiri, dan juga Ibu Dra. Malia Uti dari Divisi Tour dan Promosi ASITA DIY. Acara seminarnya seru dan unik, karena disajikan di dalam bus pariwisata yang berjalan. Iya, beneran, busnya melaju di atas jalan raya gitu. Lebih tepatnya sih sebutannya seminar on the road, in the bus, hehe.

Tenang saja, kami semua tetap memperhatikan protokol kesehatan kok. Mulai dari pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki bus, menggunakan masker, serta dibagikan hand sanitizer yang bisa kami pakai sewaktu-waktu. Oh ya, di dalam bus, kami juga tetap menjaga jarak lho. Jadi bus pariwisata yang kami kendarai ini hanya diisi 50 % dari kapasitas totalnya. Kami duduk sendiri-sendiri di dalam bus, tidak berdampingan.

Suasana persiapan memasuki ke dalam bus, saat Seminar on the Road. (Dokumentasi pribadi)

Bus pariwisata ini melaju menuju ke Yogyakarta International Airport (YIA), yang menjadi venue diadakannya upacara Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020. Pada saat upacara ini, kami semua seluruh peserta tetap menjaga jarak lho, dan itu semua tidak mengurangi kekhidmatan kami mengikuti jalannya upacara. By the way, upacara Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020 ini dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Bapak Kwintarto Heru Prabowo loh. Upacara ini juga turut dihadiri oleh Bapak Agus Pandu Purnama selaku GM. PT. Angkasa Pura I, Pemda DIY, Pemda Kulonprogo, Bank BPD DIY Cabang Bantul, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), serta kami para pelaku pariwisata di Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Oh ya, sebelum upacara dimulai, kami semua dihibur oleh pergelaran tari yang disajikan oleh para penari berbakat dari SMKI Kabupaten Bantul lho.

Pergelaran tari dalam upacara Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020. (Dokumentasi pribadi)

Setelah upacara, kami semua diajak untuk mengunjungi bandara baru, yang adalah Yogyakarta International Airport (YIA). Yeayy….ini menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi saya, karena menjadi pengalaman pertama saya memasuki bandara ini, secara resmi disambut oleh petugas bandara pula. Kami semua diajak berkeliling untuk menikmati sajian interior di dalam bandara. Tentunya dengan dipandu oleh petugas bandara yang cantik, ganteng, dan ramah donk.

Saya berswafoto di salah satu sudut YIA. (Dokumentasi pribadi)

Kami dipersilakan untuk menjelajahi setiap sudut bandara baru ini. Asli, desain eksterior dan interiornya keren banget. Megah dan masih tetap mengandung unsur budaya Jawa khas Jogja. Apalagi kami diperbolehkan untuk berfoto di dalamnya. Makin cinta dech ama bandara baru ini.

Lepas Tukik ke Samudera di Pantai Gua Cemara

Selesai berkeliling bandara YIA, kami dipersilakan untuk menuju ke destinasi terakhir, yakni Pantai Goa Cemara. Ketika sampai di Pantai Goa Cemara, kami semua disambut oleh kakak-kakak dari Bank BPD DIY Cabang Bantul, yang mempresentasikan mengenai produk terbaru dari mereka dalam pelayanan pembayaran non tunai, yang bisa diaplikasikan di dunia pariwisata. Udah canggih loh Bank BPD DIY sekarang, terutama Bank BPD DIY Cabang Bantul. Asyik kan kalau udah bisa pakai pembayaran non tunai, ga perlu repot nyiapin uang tunai. Lebih praktis dan lebih aman.

Kakak-kakak dari Bank BPD DIY Cabang Bantul berfoto bersama bapak ibu dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. (Dokumentasi pribadi)

Selanjutnya, kami pun menuju ke Rumah Penyu, yang merupakan tempat penangkaran dan pemeliharaan penyu dan tukik. Udah pada tahu kan tukik itu apa? Ya udah, aku ingetin lagi dech. Tukik itu adalah istilah untuk menyebut anak penyu. Tukik-tukik yang ada di Rumah Penyu ini lucu-lucu banget, imut-imut.

Saya sendiri diberi satu ekor tukik yang boleh saya lepaskan ke laut bebas. Tukik saya ini saya beri nama Marina, karena nama tersebut sesuai kan dengan samudera luas, hehe. Pemandu di Rumah Penyu, Mas Wawan, bilang kalau tukik-tukik ini akan kembali ke Pantai Goa Cemara dalam waktu 6 tahun setelah cukup dewasa untuk bertelur. Yach, jadi saya baru akan bisa bertemu dengan Marina setelah 6 tahun donk. Jujur, saya terharu lho pas lihat Marina berusaha lari menuju lautan yang menjadi habitatnya.

Saya bersama Marina, tukik yang saya lepaskan di Pantai Goa Cemara. (Foto oleh Prima Hapsari)

Demikian lah cerita saya selama mengikuti rangkaian acara Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke 40 di Kabupaten Bantul 2020. Walau kami semua datang secara bersama-sama, kami semua tetap mematuhi protokol kesehatan demi mencegah penularan Covid-19 kok. Tetap ikuti cerita saya selanjutnya ya. Terima kasih.

gaya hidup, Kuliner, perjalanan, Review, travelling

Rekreasi dan Belajar di Ugul Ugul Kepurun

IMG-20200202-WA0074
Saya di depan gerbang Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Kisna Hafizh)

Sebagai sebuah objek wisata edukasi, Ugul Ugul Kepurun masih bisa dibilang baru. Ugul Ugul Kepurun mulai dibuka untuk umum sejak akhir tahun 2017, jadi baru dua tahun lebih hadir di tengah-tengah masyarakat Klaten, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Dengan mengusung konsep Agroedutourism, yakni wisata pendidikan agrobisnis dan agroindustri, Ugul Ugul Kepurun terasa unik dan berbeda dengan berbagai objek wisata lainnya. Terutama objek-objek wisata baru yang hadir hampir bersamaan dengannya.

IMG-20200202-WA0064
Salah satu kegiatan outbond di Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Dokumentasi Ugul Ugul Kepurun)

Di sini, di Ugul Ugul Kepurun, para pengunjung tidak hanya bisa melepas penat, sembari berekreasi saja. Namun juga dapat belajar mengenai agrobisnis dan agroindustri sekaligus. Ya, belajar mengenai pertanian, peternakan, perikanan, dan semacamnya.

IMG-20200202-WA0046
Kegiatan bercocok tanam di Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Dokumentasi Ugul Ugul Kepurun)

Sebagai mana kita ketahui, bahwa bisnis yang berbasis di bidang pertanian, saat ini sedang berkembang di Indonesia. Selain bisnis startup di bidang aplikasi dan teknologi tentunya. Nah, peluang di bidang bisnis pertanian itulah yang dikembangkan oleh pengelola dari Ugul Ugul Kepurun.

Pada hari Minggu, 2 Februari 2020 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Ugul Ugul Kepurun. Saat itu, saya datang bersama beberapa rekan blogger dan influencer Yogyakarta lainnya. Kami disambut oleh salah satu karyawan Ugul Ugul Kepurun, yakni Mas Ahmad, yang meluangkan waktunya untuk menemani kami.

20200202_095854
Mas Ahmad, karyawan Ugul Ugul Kepurun, yang menyambut saya dan rekan. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Mas Ahmad bercerita bahwa Ugul Ugul Kepurun berdiri di bidang lahan seluas 3,5 Ha yang berlokasi di Kepurun, Manisrenggo, Klaten, yang berjarak sekitar 45 menit dari Pusat Kota Yogyakarta. Tak hanya mempunyai lahan bercocok tanam berupa kebun buah dan bunga, Ugul Ugul Kepurun juga mempunyai beberapa wahana outbond untuk anak-anak dan dewasa, area berkemah, area pemancingan, area mengendarai ATV, dan juga kolam air tawar untuk menaiki perahu bebek. Oh ya, Ugul Ugul Kepurun pun saat ini juga sudah mempunyai restoran.

Ugul Ugul Kepurun ini dimiliki dan dikelola oleh PT. KPI (Kepurun Pawana Indonesia), yang telah berpengalaman selama kurang lebih 23 tahun sejak tahun 1997, menjadi perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultasi dan training centre agrobisnis dan agroindustri di Indonesia.

IMG-20200202-WA0054
Salah satu intansi yang berkunjung di Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Dokumentasi Ugul Ugul Kepurun)

Jika sebelumnya, pangsa pasar dari PT. KPI ini adalah perusahaan-perusahaan swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), dan kelompok masyarakat yang ingin mengadakan pelatihan. Maka, mulai tahun 2017 itu lah, PT. KPI melebarkan sayapnya dengan mengembangkan potensi lahan yang dimilikinya untuk dijadikan objek wisata, tanpa meninggalkan ruh-nya, yakni pelatihan di bidang agrobisnis dan agroindustri. Dengan target utamanya adalah masyarakat umum dan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan luar negeri.

IMG-20200202-WA0042
Beberapa siswa sekolah yang berkunjung di Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Dokumentasi Ugul Ugul Kepurun)

Hal ini dibuktikan dengan adanya area pelatihan agrobisnis dan agroindustri bagi pengunjung. Seperti pelatihan bercocok tanam di dalam polybag, pelatihan membuat telur asin, keripik buah (semisal buah salak, pisang dan nangka), nugget, dan bakso. Serta pelatihan pengolahan produk berbahan baku susu sapi.

Walaupun memang ditujukan untuk masyarakat umum, namun pelatihan agrobisnis dan agroindustri ini lebih banyak diminati oleh anak-anak usia TK dan SD konsumen setia.

Dengan mengusung tema restoran outdoor, Ugul Ugul Kepurun Resto menyajikan beragam menu yang memanjakan lidah pengunjungnya. Seperti Nila Asam Pedas dan Nila Bakar yang menjadi signature dish. Dan minuman terfavorit adalah Es Kelapa Muda. Mas Ahmad mempersilakan kami menikmati dua menu utama tadi.

IMG-20200202-WA0069
Saya saat menikmati menu Nila Bakar dari Ugul Ugul Resto. (Foto: Kisna Hafizh)

Bagi saya, juaranya memang Nila Asam Pedas. Daging ikan nilanya sangat lembut, berpadu dengan kuah asam pedas yang meninggalkan sensasi segar di mulut. Sementara Nila Bakarnya juga tak kalah lezat. Bumbu meresap sempurna ke dalam setiap mili daging ikan nilanya yang terpanggang dengan tingkat kematangan yang sempurna. So yummy.

PhotoGrid_1581013831800
Saya saat menikmati beragam menu di Ugul Ugul Resto. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Sementara Es Kelapa Mudanya juga mantap. Dengan paduan gula aren yang tercampur sempurna, setiap cecap daging buah dan air kelapa mudanya memberikan sensasi menyegarkan di tenggorokan saya.

Selain kedua menu andalan tadi, Ugul Ugul Kepurun Resto juga mempunyai menu lain yang juga sedap, seperti Ayam Rica, Capcay Ayam, Gule Kambing Gunung, Bistik Kambing Gunung, Tongseng Kambing Gunung, dan sebagainya.

Selesai menikmati sajian dari Ugul Ugul Resto, Mas Ahmad mengajak kami berkeliling ke seluruh lahan Ugul Ugul Kepurun. Kami diajak mengunjungi ke dalam kandang kambing, domba, sapi, dan kerbau. Kami juga diajak berkunjung ke dalam istal kuda dan kandang rusa, bahkan dipersilakan untuk ikut memberi makan pada rusa-rusa tadi dengan makanan favorit mereka, yakni Rumput Kalanjana. Rusa-rusanya sangat jinak. Menggemaskan.

PhotoGrid_1581036697287
Saya saat berada di area kandang rusa di kawasan Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Kami pun diajak mengunjungi fasilitas yang ada di sana, seperti area pengolahan pupuk kandang, pengolahan kompos, serta ke area penanaman tanaman dengan polybag.

PhotoGrid_1581036785020
Saya saat berada di kolam perahu bebek yang ada di kawasan Ugul Ugul Kepurun. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Dan kunjungan kami pun diakhiri dengan mengunjungi area pelatihan agrobisnis dan agroindustri. Serta ke area kolam pemancingan. Dua rekan saya sempat bermain perahu bebek di kolam air tawar. Sementara saya, saya berkunjung ke pulau mini yang ada di tengah kolam tersebut.

Dengan perpaduan suasana pedesaan yang sejuk, yang dilengkapi dengan udara bersih, saya yakin Ugul Ugul Kepurun ini mampu memberikan nuansa rekreasi yang santai dan nyaman, sekaligus untuk melepas penat setelah bekerja. Dan juga dapat membangkitkan kenangan nostalgia masa lalu, saat kita berkunjung ke kebun nenek-kakek di desa, seperti dengan belajar berkebun, bercocok tanam, dan belajar memasak mengolah makanan, serta melihat hewan-hewan ternak. Apalagi dengan harga tiket yang sangat terjangkau, saya sangat merekomendasikan kamu untuk berkunjung ke sini.

Ugul Ugul Kepurun
Jln. Pasar Butuh Baturan, Dusun 1, Kepurun, Manisrenggo
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 55583
Jam Operasional               : 09:00 -21:00 WIB
Telp.                                      : 082136292100
Surel                                    : ppa_kpi@yahoo.co.id
Laman                                   : http://www.ptkepurun.com ; http://www.ugulugul.com
HTM                                      : Biaya parkir kendaraan roda dua Rp 2.000,-, roda empat Rp 5000,-
Biaya Pelatihan                   : Terlampir di brosur

Ragam galeri:

gaya hidup, perjalanan, Review, travelling

GatheringPositif Bermedia Sosial dari Gerakan Nasional Revolusi Mental 2019

20190520_104843
Wahyu saat mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial 2019. (Dokumentasi pribadi)

Halo, kawan. Lama juga ya kita tidak berjumpa. Kali ini, Wahyu ingin bercerita kepada kamu semua, bahwa Wahyu baru saja mengikuti sebuah acara yang keren banget. Jadi pada hari Senin, 20 Mei 2019 yang lalu, Wahyu berkesempatan untuk mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Tepatnya acara ini diadakan di Pendopo Utama Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Acara yang bertema “Pembangunan Karakter yang Berwawasan Budaya Menuju Indonesia Mandiri” ini mengundang banyak pelaku digital yang berasal dari generasi muda yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti menghadirkan para penggiat komunitas, blogger, vlogger, netizen aktif generasi muda, serta para penggiat media sosial. Acara ini dipandu oleh seorang MC senior dari Yogyakarta, yaitu mas Anang Batas. Oh ya, dalam kesempatan ini, Wahyu bersama dengan seorang kawan bernama Prima, hadir mewakili dari profesi blogger, karena Wahyu mendapatkan undangan dari Blogger Crony Community, dimana Wahyu dan Prima tergabung di dalamnya sebagai anggota.

IMG-20190520-WA0047
Para Pembicara berfoto bersama beberapa peserta. (Dokumen GNRM)

Pada acara ini terdapat segmen bincang-bincang (talkshow) yang menghadirkan empat orang pembicara, yang kesemuanya mengajak para peserta untuk tetap bijak dalam menggunakan media sosial, baik itu Twitter, Facebook, Instagram, blog, vlog, dan sebagainya. Pembicara pertama adalah GKR Hayu, yang bertindak selaku penghageng Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi yang ada di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang bertugas menangani urusan IT dan dokumentasi. Beliau membawakan tema “Mengenali Jati Diri Warisan Budaya dan Kiprah Kasultanan di Era Milenial”. Salah satu pesan yang beliau sampaikan adalah “Modernisasi itu tidak selalu berarti Westernisasi. Budaya Jawa juga bisa Modern”.

Pembicara kedua adalah ibu Tri Mumpuni, Anggota Gugus Tugas Nasional GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang memaparkan tema Aksi Nyata Revolusi Mental : Menjaga Hati. Pembicara ketiga adalah bapak Wahyu Aji, yang merupakan CEO Good News From Indonesia, serta bapak Noudhy Valdryno, Facebook Indonesia, yang menjadi pembicara keempat. Kedua pembicara berpesan untuk tetap menggunakan media sosial secara positif untuk keberlangsungan Indonesia yang lebih baik. Keempat pembicara ini dipandu oleh bapak Said Hasibuan dari Relawan TIK selaku moderator. Segmen bincang-bincang ini berlangsung seru, karena di antara pembicara dan peserta terlibat sebuah diskusi yang hangat, yang sama-sama sepakat untuk menggunakan media social secara bijak dan positif demi keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Setelah acara bincang-bincang, para peserta disuguhi sajian Tari Salak yang merupakan tari kreasi baru yang menggambarkan tentang Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi, yang identik dengan perkebunan salak. Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yang semuanya dinamai dengan tiga prinsip dasar Gerakan Nasional Revolusi Mental, yakni Integritas, Etos Kerjam dan Gotong Royong, yang kemudian peserta dipersilakan untuk menikmati beragam kegiatan yang ada di dalam Paket Wisata Desa Wisata Pulesari Wonokerto ini, yakni Kegiatan Susur Desa (Field Trip), Kegiatan menikmati Permainan Rakyat, dan mengikuti Kegiatan Olahraga Tradisional.

Karena Wahyu termasuk di dalam kelompok Etos Kerja, maka kelompok Etos Kerja mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Olahraga Tradisional, kemudian kegiatan Permainan Rakyat, dan terakhir adalah kegiatan Susur Desa. Untuk kelompok lain seperti kelompok Integritas dan kelompok Gotong Royong, kegiatannya sama persis, hanya urutannya saja yang berbeda.

IMG-20190521-WA0000
Wahyu dan beberapa peserta tengah mencoba melakukan Jemparingan. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan menikmati Olahraga Tradisional diawali dengan mengikuti aktifitas olahraga Jemparingan, yang mirip dengan panahan. Yang membedakan adalah Jemparingan merupakan aktifitas olahraga panahan yang menggunakan peraturan dan tata cara khas Jawa, yang di antaranya seperti penggunaan pakaian tradisional Jawa (seperti beskap untuk pria, dan kebaya untuk wanita), kegiatan Jemparingan yang dilakukan dalam posisi duduk bersila, bahan busur (jemparing) yang terbuat dari material kayu. Walaupun Wahyu pernah melakukan kegiatan panahan sebelumnya, ternyata melakukan Jemparingan ini terasa perbedaannya. Ternyata busur dan tali busurnya itu sangat berat untuk ditarik. Sebuah tantangan yang mengasyikkan. Kemudian setelah melakukan Jemparingan, peserta diajak untuk menikmati atraksi pencak silat dari Kelompok Satria Tama, yang berasal dari Desa Wonokerto, yang dimana pencak silat merupakan olahraga asli Indonesia tercinta.

20190520_141024
Beberapa anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto tengah melakukan permainan rakyat, dengan menggunakan busana tradisional. (Dokumentasi pribadi)

Kegiatan kedua adalah menikmati kegiatan Permainan Rakyat, seperti egrang, dakon, bakiak, telepon benang, dan sebagainya. Kegiatan ini dipandu oleh kakak-kakak dari Komunitas Kampoeng Hompimpa, sebuah komunitas yang peduli pada kelestarian permainan rakyat Indonesia yang hadir dari keprihatinan melihat generasi muda dan anak-anak Indonesia yang menghabiskan waktunya lebih banyak menggunakan gawai (gadget) daripada bermain secara langsung di dunia nyata. Permainan rakyat ini diperagakan oleh anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto dalam balutan pakaian tradisional. Sungguh menyenangkan bagi Wahyu, ketika melihat beragam permainan rakyat Indonesia ini dimainkan, menjadi semacam pemutaran memori mengenang masa lalu saat Wahyu masih anak-anak di era ‘90an.

A
Wahyu saat mengikuti kegiatan Susur Desa. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan terakhir adalah kegiatan Susur Desa, yang terdiri atas menyusuri sungai-sungai kecil yang ada di Pulesari yang kemudian menyusuri area perkebunan salak, yang kemudian mendapatkan oleh-oleh olahan salak yang merupakan sajian khas dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto. Kegiatan Susur Desa ini dimaksudkan agar para peserta dapat menikmati keindahan panorama alam yang ada, dan semakin meningkatkan kembali kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Oh ya, saat Wahyu pulang, Wahyu dan peserta lain mendapatkan goody bag yang salah satu isinya adalah sedotan stainless steel, yang merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan dengan mengurangi sampah sedotan plastik. Keren banget ya tujuannya. Dan ketiga kegiatan tersebut sama-sama bertujuan positif, yang sesuai dengan tema Revolusi Mental semua ya, kawan.

Demikianlah secuplik cerita Wahyu selama mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman yang lalu. Wahyu ingin mengucapkan terima kasih kepada Blogger Crony Community atas undangannya, terima kasih pula kepada Kemenko PMK RI dan GNRM yang sudah mengadakan acara bagus nan keren ini. Wahyu juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang sudah meluangkan waktu untuk menyimak cerita Wahyu kali ini. Kita berjumpa di cerita Wahyu berikutnya ya.

#LFAAPAJogja, perjalanan, Review, travelling

Catatan Perjalanan: Berkunjung ke Kemuning, Kampung Berseri Astra di Yogyakarta

 

Kesayanganku Semua, saya mau cerita lho. (Dan kamu kudu baca ya, hahaha).

Jadi tuh kemarin awal bulan, tepatnya pada hari Sabtu, 3 November 2018 yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah acara keren, yaitu Roadshow Kampung Berseri Astra, yang merupakan rangkaian aktivitas Satu Indonesia (Semangat Astra Terpadu Indonesia) 2018 persembahan dari PT. Astra International Tbk. Kebetulan tuh ya acara ini diselenggarakan di Kampung Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

20181103_081510
Bapak Suhardi, Kadus Kampung Kemuning, menyambut para blogger dan jurnalis peserta Roadshow.

Kalau kamu mendengar nama Gunungkidul, kamu pasti akan membayangkan sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur dan tenggara DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan dulu, Gunungkidul itu identik dengan kekeringan, wilayah tandus, gersang. Namun sekarang, sudah tidak lagi. Gunungkidul saat ini sudah mulai berubah. Gunungkidul sudah menjadi salah satu kabupaten di DIY yang menggeliat. Ibarat kata, Gunungkidul saat ini sedang rajin-rajinnya membangun wilayahnya, seperti seorang gadis yang tengah rajin bersolek dan berdandan. Lihat saja, saat ini ada begitu banyak destinasi wisata kekinian yang ada di Gunungkidul. Sebut saja Pantai Indrayanti, Pantai Sundak, Pantai Siung, Gua Pindul, dan masih banyak lagi. Dan itulah bukti bahwa Gunungkidul saat ini telah menjadi wilayah di DIY yang menggeliat secara ekonomi dan wisata.

Beruntungnya saya mendapat undangan untuk mengikuti acara Roadshow Kampung Berseri Astra ini, sehingga saya dapat mengunjungi sebuah kampung yang juga saat ini tengah bersolek, yaitu Kampung Kemuning.

Saya, bersama beberapa Panitia Penyelenggara dan para Pejabat dari PT. Astra International Tbk, beserta beberapa blogger dan jurnalis, berkunjung ke Kampung Kemuning melalui jalur darat. Kami semua memakan waktu sekitar satu jam perjalanan menuju ke sana. Maka tak heran, ketika kami tiba di sana, para warga Kampung Kemuning telah bersiap untuk menyambut kami semua.

Kami dipersilakan untuk menuju Pendopo Astra, sebuah pendopo yang biasa dipakai oleh warga setempat untuk menyambut tamu-tamu kehormatan. Ah, saya menjadi merasa seperti orang penting nih, hehe. Namun sebelumnya, kami semua harus melalui sebuah prosesi unik sebelum memasuki pendopo tersebut.

Pertama-tama kami akan dipersilakan untuk menggunakan kain batik, yang pemakaiannya dibantu oleh warga. Yang kemudian diberikan tempelan semacam bros yang terbuat dari rempah-rempah bangle, dan diperciki air yang ditaruh di dalam guci yang di dalamnya ada tanaman kemuningnya, salah satu tanaman khas Kampung Kemuning. Unik sekali kan. Dan prosesi penyambutan pun dilanjutkan dengan senam yang dilaksanakan oleh ibu-ibu dari warga setempat. Oh ya hampir saja lupa, lokasi Pendopo Astra ini berdekatan dengan sebuah telaga. Kami pun menyempatkan diri untuk mengabadikan pemandangan telaga itu tentunya.

Kemudian acara Roadshow Kampung Berseri Astra ini pun dimulai dengan ditandai pidato sambutan oleh Bapak Fernanda dari PT. Astra International Tbk, disambung dengan sambutan dari Bapak Suhardi selaku Kadus (Kepala Dusun) Kampung Kemuning, dan juga sambutan dari Bapak Eli Martono dari Dinas Pariwisata Gunungkidul, dengan dipandu oleh Mas Ilham dari PT. Astra International.

Saat menyimak pidato sambutan tersebut, kami mendapatkan beragam sajian hidangan kue tradisional seperti kacang rebus, pisang rebus, dan ubi rebus. Serta ada sebuah makanan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Namanya adalah Gaplek Geprek. Gaplek Geprek ini adalah makanan yang terbuat dari gaplek matang yang dipotong besar-besar, digeprek, untuk kemudian dilumuri gula merah cair. Unik dan enak. Ternyata, Gaplek Geprek ini mempunyai filosofi yang sangat dalam, yang melambangkan sebagai manusia, dari tanah kembali ke tanah, yang dari prosesnya singkong menjadi gaplek dari sejak dicabut, dikuliti, dijemur, direndam, dan direbus itu ibarat ujian kehidupan manusia. Dan diharapkan nanti di akhir hayat akan mendapat surga dari Tuhan YME, sebagaimana lumuran gula merah cair yang manis yang menjadi topping Gaplek Geprek ini. Mak jlebb banget euy.

20181103_084405
Gaplek Geprek. (Dokumen Pribadi)

Dalam sambutannya, Pak Suhardi –yang juga merupakan Kepala Kelompok Sadar Wisata Kampung Kemuning- menjelaskan bahwa filosofi kain batik yang kami pakai dengan cara dipakaikan itu semacam kain bedong yang dipakaikan kepada bayi. Jadi kami semua diibaratkan semacam bayi yang tengah berkunjung ke Kampung Kemuning. Dan karena bayi itu masih rentan, maka agar “menolak bala”, kami pun dipakaikan bros bangle dan percikan air kemuning itu tadi. Ya ampun, saya yang udah jenggotan gini masih dianggap bayi lho, hahaha.

Oh ya, Kampung Kemuning ini sudah menjadi kampung binaan PT. Astra International Tbk sejak tahun 2016. Kampung Kemuning ini merupakan satu dari 77 kampung binaan PT. Astra International Tbk. Sementara definisi dari Kampung Berseri Astra itu merupakan singkatan dari Bersih, Sehat, Cerdas, dan Produktif (Berseri). Kampung Berseri Astra ini merupakan program CSR (Corporate Social Responsibility) dari PT. Astra International Tbk yang berfokus pada pengembangan kampung atau daerah tertentu secara terpadu yang mengandung empat unsur pilar program CSR Astra yaitu Kesehatan, Lingkungan, Pendidikan, dan Kewirausahaan. Dan untuk keterangan lengkap mengenai Kampung Berseri Astra ini dapat mengunjungi ke sini ya.

20181103_083148

Setelah acara penyambutan tersebut, kami pun menuju ke destinasi-destinasi yang merupakan program binaan PT. Astra International Tbk.

Destinasi pertama adalah menuju ke RA Masyitoh yang merupakan binaan PT. Astra International dalam pilar Pendidikan. Walaupun sederhana, namun para siswa RA (Raudhatul Athfal) ini sangat bersemangat belajar. Para ibu guru pun termotivasi untuk mengajar dengan baik. RA Masyitoh ini juga ternyata sebuah RA yang cukup berprestasi. Mengingat begitu banyak piala yang dipajang yang merupakan bukti prestasi RA ini. Oh ya Raudhatul Athfal itu adalah pendidikan setara TK dan PAUD ya.

Kemudian destinasi kedua adalah menuju ke pusat sentra industri makanan lempeng singkong yang merupakan UMKM Binaan PT. Astra International. Dan UMKM yang dibidani dan dikelola oleh para ibu-ibu warga setempat ini merupakan bukti bahwa PT. Astra International Tbk membina Kampung Kemuning dalam pilar Kewirausahaan. Tidak hanya membina dalam segi produksi, PT. Astra International Tbk juga memberikan pelatihan dalam hal distribusi produknya. Terbukti dengan bentuk kemasan yang modern untuk produk sekelas UKM, serta proses produksi yang telah dapat ditingkatkan kapasitas dan kecepatannya. Selain lempeng singkong, UMKM ini juga memproduksi banana roll, keripik, dan juga jenang.

Destinasi berikutnya adalah mengunjungi sesepuh Kampung Kemuning, Mbah Sumanto. Mbah Sumanto bercerita mengenai sejarah pendirian Kampung Kemuning dan juga silsilah para sesepuh kampung tersebut. Di halaman rumah Mbah Sumanto, ternyata sedang ada sekelompok anak perempuan dan gadis remaja yang tengah berlatih tari tradisional. Kebetulan banget ya. Saya dan beberapa rekan blogger dan jurnalis pun menyempatkan diri untuk menikmati tarian tersebut sebelum kami berlanjut menuju destinasi berikutnya.

Kalau kamu pernah mendengar bank sampah, nah di Kampung Kemuning ternyata juga ada bank sampah lho. Bank sampah ini terletak di sebelah rumah Bapak Suhardi, Kadus Kampung Kemuning. Untuk pengelolaan bank sampah ini, warga Kampung Kemuning juga mendapat pembinaan oleh PT. Astra International Tbk sebagai bukti pilar Lingkungan dari program Kampung Berseri Astra.

Destinasi terakhir adalah menuju ke Balai Pertemuan Dusun Kampung Kemuning yang kebetulan saat itu juga tengah diadakan Posyandu Balita dan Posyandu Lansia.)* Posyandu ini merupakan wujud Pilar Kesehatan binaan PT. Astra International Tbk dalam program Kampung Berseri Astra di Kampung Kemuning ini.

Dan tibalah kami menikmati makan siang kembul (makan beramai-ramai) dengan menu nasi tumpeng, ingkung ayam, sambel tiwul, sambel bawang, dan wedang secang. Endol markendol. Setelah kami mengunjungi lengkap semua destinasi tersebut, kami pun dipersilakan untuk pulang dan membantu menyebarkan kabar baik dan hal positif dari Kampung Kemuning, Gunungkidul, yang merupakan Kampung Berseri Astra di Yogyakarta, ke seluruh Indonesia dan dunia. Sebagaimana yang diminta oleh Bapak Fernanda dan Bapak Eli saat pidato sambutan kepada kami.

Jadi, kalau kamu mau ikutan berseri seperti saya, saya sarankan kamu untuk mengunjungi Kampung Kemuning, yang merupakan Kampung Berseri Astra di Yogyakarta. Dekat kok, hanya dengan perjalanan sekitar satu setengah jam doank dari Yogyakarta. Kalau kamu mau ke sana, kabari saya ya. Siapa tahu saya juga boleh ikutan hehe.


Oh ya untuk liputan mengenai perjalanan saya selama di Kampung Kemuning ini, kamu bisa mengunjungi channel Youtube saya ini ya. Terima kasih.

#LFAAPAJogja
)* Posyandu = Pos Pelayanan Terpadu
Balita = Bawah Lima Tahun
Lansia = Lanjut Usia