gaya hidup, perjalanan, Review, travelling

GatheringPositif Bermedia Sosial dari Gerakan Nasional Revolusi Mental 2019

20190520_104843
Wahyu saat mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial 2019. (Dokumentasi pribadi)

Halo, kawan. Lama juga ya kita tidak berjumpa. Kali ini, Wahyu ingin bercerita kepada kamu semua, bahwa Wahyu baru saja mengikuti sebuah acara yang keren banget. Jadi pada hari Senin, 20 Mei 2019 yang lalu, Wahyu berkesempatan untuk mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Tepatnya acara ini diadakan di Pendopo Utama Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Acara yang bertema “Pembangunan Karakter yang Berwawasan Budaya Menuju Indonesia Mandiri” ini mengundang banyak pelaku digital yang berasal dari generasi muda yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti menghadirkan para penggiat komunitas, blogger, vlogger, netizen aktif generasi muda, serta para penggiat media sosial. Acara ini dipandu oleh seorang MC senior dari Yogyakarta, yaitu mas Anang Batas. Oh ya, dalam kesempatan ini, Wahyu bersama dengan seorang kawan bernama Prima, hadir mewakili dari profesi blogger, karena Wahyu mendapatkan undangan dari Blogger Crony Community, dimana Wahyu dan Prima tergabung di dalamnya sebagai anggota.

IMG-20190520-WA0047
Para Pembicara berfoto bersama beberapa peserta. (Dokumen GNRM)

Pada acara ini terdapat segmen bincang-bincang (talkshow) yang menghadirkan empat orang pembicara, yang kesemuanya mengajak para peserta untuk tetap bijak dalam menggunakan media sosial, baik itu Twitter, Facebook, Instagram, blog, vlog, dan sebagainya. Pembicara pertama adalah GKR Hayu, yang bertindak selaku penghageng Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi yang ada di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang bertugas menangani urusan IT dan dokumentasi. Beliau membawakan tema “Mengenali Jati Diri Warisan Budaya dan Kiprah Kasultanan di Era Milenial”. Salah satu pesan yang beliau sampaikan adalah “Modernisasi itu tidak selalu berarti Westernisasi. Budaya Jawa juga bisa Modern”.

Pembicara kedua adalah ibu Tri Mumpuni, Anggota Gugus Tugas Nasional GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang memaparkan tema Aksi Nyata Revolusi Mental : Menjaga Hati. Pembicara ketiga adalah bapak Wahyu Aji, yang merupakan CEO Good News From Indonesia, serta bapak Noudhy Valdryno, Facebook Indonesia, yang menjadi pembicara keempat. Kedua pembicara berpesan untuk tetap menggunakan media sosial secara positif untuk keberlangsungan Indonesia yang lebih baik. Keempat pembicara ini dipandu oleh bapak Said Hasibuan dari Relawan TIK selaku moderator. Segmen bincang-bincang ini berlangsung seru, karena di antara pembicara dan peserta terlibat sebuah diskusi yang hangat, yang sama-sama sepakat untuk menggunakan media social secara bijak dan positif demi keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Setelah acara bincang-bincang, para peserta disuguhi sajian Tari Salak yang merupakan tari kreasi baru yang menggambarkan tentang Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi, yang identik dengan perkebunan salak. Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yang semuanya dinamai dengan tiga prinsip dasar Gerakan Nasional Revolusi Mental, yakni Integritas, Etos Kerjam dan Gotong Royong, yang kemudian peserta dipersilakan untuk menikmati beragam kegiatan yang ada di dalam Paket Wisata Desa Wisata Pulesari Wonokerto ini, yakni Kegiatan Susur Desa (Field Trip), Kegiatan menikmati Permainan Rakyat, dan mengikuti Kegiatan Olahraga Tradisional.

Karena Wahyu termasuk di dalam kelompok Etos Kerja, maka kelompok Etos Kerja mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Olahraga Tradisional, kemudian kegiatan Permainan Rakyat, dan terakhir adalah kegiatan Susur Desa. Untuk kelompok lain seperti kelompok Integritas dan kelompok Gotong Royong, kegiatannya sama persis, hanya urutannya saja yang berbeda.

IMG-20190521-WA0000
Wahyu dan beberapa peserta tengah mencoba melakukan Jemparingan. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan menikmati Olahraga Tradisional diawali dengan mengikuti aktifitas olahraga Jemparingan, yang mirip dengan panahan. Yang membedakan adalah Jemparingan merupakan aktifitas olahraga panahan yang menggunakan peraturan dan tata cara khas Jawa, yang di antaranya seperti penggunaan pakaian tradisional Jawa (seperti beskap untuk pria, dan kebaya untuk wanita), kegiatan Jemparingan yang dilakukan dalam posisi duduk bersila, bahan busur (jemparing) yang terbuat dari material kayu. Walaupun Wahyu pernah melakukan kegiatan panahan sebelumnya, ternyata melakukan Jemparingan ini terasa perbedaannya. Ternyata busur dan tali busurnya itu sangat berat untuk ditarik. Sebuah tantangan yang mengasyikkan. Kemudian setelah melakukan Jemparingan, peserta diajak untuk menikmati atraksi pencak silat dari Kelompok Satria Tama, yang berasal dari Desa Wonokerto, yang dimana pencak silat merupakan olahraga asli Indonesia tercinta.

20190520_141024
Beberapa anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto tengah melakukan permainan rakyat, dengan menggunakan busana tradisional. (Dokumentasi pribadi)

Kegiatan kedua adalah menikmati kegiatan Permainan Rakyat, seperti egrang, dakon, bakiak, telepon benang, dan sebagainya. Kegiatan ini dipandu oleh kakak-kakak dari Komunitas Kampoeng Hompimpa, sebuah komunitas yang peduli pada kelestarian permainan rakyat Indonesia yang hadir dari keprihatinan melihat generasi muda dan anak-anak Indonesia yang menghabiskan waktunya lebih banyak menggunakan gawai (gadget) daripada bermain secara langsung di dunia nyata. Permainan rakyat ini diperagakan oleh anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto dalam balutan pakaian tradisional. Sungguh menyenangkan bagi Wahyu, ketika melihat beragam permainan rakyat Indonesia ini dimainkan, menjadi semacam pemutaran memori mengenang masa lalu saat Wahyu masih anak-anak di era ‘90an.

A
Wahyu saat mengikuti kegiatan Susur Desa. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan terakhir adalah kegiatan Susur Desa, yang terdiri atas menyusuri sungai-sungai kecil yang ada di Pulesari yang kemudian menyusuri area perkebunan salak, yang kemudian mendapatkan oleh-oleh olahan salak yang merupakan sajian khas dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto. Kegiatan Susur Desa ini dimaksudkan agar para peserta dapat menikmati keindahan panorama alam yang ada, dan semakin meningkatkan kembali kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Oh ya, saat Wahyu pulang, Wahyu dan peserta lain mendapatkan goody bag yang salah satu isinya adalah sedotan stainless steel, yang merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan dengan mengurangi sampah sedotan plastik. Keren banget ya tujuannya. Dan ketiga kegiatan tersebut sama-sama bertujuan positif, yang sesuai dengan tema Revolusi Mental semua ya, kawan.

Demikianlah secuplik cerita Wahyu selama mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman yang lalu. Wahyu ingin mengucapkan terima kasih kepada Blogger Crony Community atas undangannya, terima kasih pula kepada Kemenko PMK RI dan GNRM yang sudah mengadakan acara bagus nan keren ini. Wahyu juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang sudah meluangkan waktu untuk menyimak cerita Wahyu kali ini. Kita berjumpa di cerita Wahyu berikutnya ya.

#LFAAPAJogja, perjalanan, Review, travelling

Catatan Perjalanan: Berkunjung ke Kemuning, Kampung Berseri Astra di Yogyakarta

 

Kesayanganku Semua, saya mau cerita lho. (Dan kamu kudu baca ya, hahaha).

Jadi tuh kemarin awal bulan, tepatnya pada hari Sabtu, 3 November 2018 yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah acara keren, yaitu Roadshow Kampung Berseri Astra, yang merupakan rangkaian aktivitas Satu Indonesia (Semangat Astra Terpadu Indonesia) 2018 persembahan dari PT. Astra International Tbk. Kebetulan tuh ya acara ini diselenggarakan di Kampung Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

20181103_081510
Bapak Suhardi, Kadus Kampung Kemuning, menyambut para blogger dan jurnalis peserta Roadshow.

Kalau kamu mendengar nama Gunungkidul, kamu pasti akan membayangkan sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur dan tenggara DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan dulu, Gunungkidul itu identik dengan kekeringan, wilayah tandus, gersang. Namun sekarang, sudah tidak lagi. Gunungkidul saat ini sudah mulai berubah. Gunungkidul sudah menjadi salah satu kabupaten di DIY yang menggeliat. Ibarat kata, Gunungkidul saat ini sedang rajin-rajinnya membangun wilayahnya, seperti seorang gadis yang tengah rajin bersolek dan berdandan. Lihat saja, saat ini ada begitu banyak destinasi wisata kekinian yang ada di Gunungkidul. Sebut saja Pantai Indrayanti, Pantai Sundak, Pantai Siung, Gua Pindul, dan masih banyak lagi. Dan itulah bukti bahwa Gunungkidul saat ini telah menjadi wilayah di DIY yang menggeliat secara ekonomi dan wisata.

Beruntungnya saya mendapat undangan untuk mengikuti acara Roadshow Kampung Berseri Astra ini, sehingga saya dapat mengunjungi sebuah kampung yang juga saat ini tengah bersolek, yaitu Kampung Kemuning.

Saya, bersama beberapa Panitia Penyelenggara dan para Pejabat dari PT. Astra International Tbk, beserta beberapa blogger dan jurnalis, berkunjung ke Kampung Kemuning melalui jalur darat. Kami semua memakan waktu sekitar satu jam perjalanan menuju ke sana. Maka tak heran, ketika kami tiba di sana, para warga Kampung Kemuning telah bersiap untuk menyambut kami semua.

Kami dipersilakan untuk menuju Pendopo Astra, sebuah pendopo yang biasa dipakai oleh warga setempat untuk menyambut tamu-tamu kehormatan. Ah, saya menjadi merasa seperti orang penting nih, hehe. Namun sebelumnya, kami semua harus melalui sebuah prosesi unik sebelum memasuki pendopo tersebut.

Pertama-tama kami akan dipersilakan untuk menggunakan kain batik, yang pemakaiannya dibantu oleh warga. Yang kemudian diberikan tempelan semacam bros yang terbuat dari rempah-rempah bangle, dan diperciki air yang ditaruh di dalam guci yang di dalamnya ada tanaman kemuningnya, salah satu tanaman khas Kampung Kemuning. Unik sekali kan. Dan prosesi penyambutan pun dilanjutkan dengan senam yang dilaksanakan oleh ibu-ibu dari warga setempat. Oh ya hampir saja lupa, lokasi Pendopo Astra ini berdekatan dengan sebuah telaga. Kami pun menyempatkan diri untuk mengabadikan pemandangan telaga itu tentunya.

Kemudian acara Roadshow Kampung Berseri Astra ini pun dimulai dengan ditandai pidato sambutan oleh Bapak Fernanda dari PT. Astra International Tbk, disambung dengan sambutan dari Bapak Suhardi selaku Kadus (Kepala Dusun) Kampung Kemuning, dan juga sambutan dari Bapak Eli Martono dari Dinas Pariwisata Gunungkidul, dengan dipandu oleh Mas Ilham dari PT. Astra International.

Saat menyimak pidato sambutan tersebut, kami mendapatkan beragam sajian hidangan kue tradisional seperti kacang rebus, pisang rebus, dan ubi rebus. Serta ada sebuah makanan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Namanya adalah Gaplek Geprek. Gaplek Geprek ini adalah makanan yang terbuat dari gaplek matang yang dipotong besar-besar, digeprek, untuk kemudian dilumuri gula merah cair. Unik dan enak. Ternyata, Gaplek Geprek ini mempunyai filosofi yang sangat dalam, yang melambangkan sebagai manusia, dari tanah kembali ke tanah, yang dari prosesnya singkong menjadi gaplek dari sejak dicabut, dikuliti, dijemur, direndam, dan direbus itu ibarat ujian kehidupan manusia. Dan diharapkan nanti di akhir hayat akan mendapat surga dari Tuhan YME, sebagaimana lumuran gula merah cair yang manis yang menjadi topping Gaplek Geprek ini. Mak jlebb banget euy.

20181103_084405
Gaplek Geprek. (Dokumen Pribadi)

Dalam sambutannya, Pak Suhardi –yang juga merupakan Kepala Kelompok Sadar Wisata Kampung Kemuning- menjelaskan bahwa filosofi kain batik yang kami pakai dengan cara dipakaikan itu semacam kain bedong yang dipakaikan kepada bayi. Jadi kami semua diibaratkan semacam bayi yang tengah berkunjung ke Kampung Kemuning. Dan karena bayi itu masih rentan, maka agar “menolak bala”, kami pun dipakaikan bros bangle dan percikan air kemuning itu tadi. Ya ampun, saya yang udah jenggotan gini masih dianggap bayi lho, hahaha.

Oh ya, Kampung Kemuning ini sudah menjadi kampung binaan PT. Astra International Tbk sejak tahun 2016. Kampung Kemuning ini merupakan satu dari 77 kampung binaan PT. Astra International Tbk. Sementara definisi dari Kampung Berseri Astra itu merupakan singkatan dari Bersih, Sehat, Cerdas, dan Produktif (Berseri). Kampung Berseri Astra ini merupakan program CSR (Corporate Social Responsibility) dari PT. Astra International Tbk yang berfokus pada pengembangan kampung atau daerah tertentu secara terpadu yang mengandung empat unsur pilar program CSR Astra yaitu Kesehatan, Lingkungan, Pendidikan, dan Kewirausahaan. Dan untuk keterangan lengkap mengenai Kampung Berseri Astra ini dapat mengunjungi ke sini ya.

20181103_083148

Setelah acara penyambutan tersebut, kami pun menuju ke destinasi-destinasi yang merupakan program binaan PT. Astra International Tbk.

Destinasi pertama adalah menuju ke RA Masyitoh yang merupakan binaan PT. Astra International dalam pilar Pendidikan. Walaupun sederhana, namun para siswa RA (Raudhatul Athfal) ini sangat bersemangat belajar. Para ibu guru pun termotivasi untuk mengajar dengan baik. RA Masyitoh ini juga ternyata sebuah RA yang cukup berprestasi. Mengingat begitu banyak piala yang dipajang yang merupakan bukti prestasi RA ini. Oh ya Raudhatul Athfal itu adalah pendidikan setara TK dan PAUD ya.

Kemudian destinasi kedua adalah menuju ke pusat sentra industri makanan lempeng singkong yang merupakan UMKM Binaan PT. Astra International. Dan UMKM yang dibidani dan dikelola oleh para ibu-ibu warga setempat ini merupakan bukti bahwa PT. Astra International Tbk membina Kampung Kemuning dalam pilar Kewirausahaan. Tidak hanya membina dalam segi produksi, PT. Astra International Tbk juga memberikan pelatihan dalam hal distribusi produknya. Terbukti dengan bentuk kemasan yang modern untuk produk sekelas UKM, serta proses produksi yang telah dapat ditingkatkan kapasitas dan kecepatannya. Selain lempeng singkong, UMKM ini juga memproduksi banana roll, keripik, dan juga jenang.

Destinasi berikutnya adalah mengunjungi sesepuh Kampung Kemuning, Mbah Sumanto. Mbah Sumanto bercerita mengenai sejarah pendirian Kampung Kemuning dan juga silsilah para sesepuh kampung tersebut. Di halaman rumah Mbah Sumanto, ternyata sedang ada sekelompok anak perempuan dan gadis remaja yang tengah berlatih tari tradisional. Kebetulan banget ya. Saya dan beberapa rekan blogger dan jurnalis pun menyempatkan diri untuk menikmati tarian tersebut sebelum kami berlanjut menuju destinasi berikutnya.

Kalau kamu pernah mendengar bank sampah, nah di Kampung Kemuning ternyata juga ada bank sampah lho. Bank sampah ini terletak di sebelah rumah Bapak Suhardi, Kadus Kampung Kemuning. Untuk pengelolaan bank sampah ini, warga Kampung Kemuning juga mendapat pembinaan oleh PT. Astra International Tbk sebagai bukti pilar Lingkungan dari program Kampung Berseri Astra.

Destinasi terakhir adalah menuju ke Balai Pertemuan Dusun Kampung Kemuning yang kebetulan saat itu juga tengah diadakan Posyandu Balita dan Posyandu Lansia.)* Posyandu ini merupakan wujud Pilar Kesehatan binaan PT. Astra International Tbk dalam program Kampung Berseri Astra di Kampung Kemuning ini.

Dan tibalah kami menikmati makan siang kembul (makan beramai-ramai) dengan menu nasi tumpeng, ingkung ayam, sambel tiwul, sambel bawang, dan wedang secang. Endol markendol. Setelah kami mengunjungi lengkap semua destinasi tersebut, kami pun dipersilakan untuk pulang dan membantu menyebarkan kabar baik dan hal positif dari Kampung Kemuning, Gunungkidul, yang merupakan Kampung Berseri Astra di Yogyakarta, ke seluruh Indonesia dan dunia. Sebagaimana yang diminta oleh Bapak Fernanda dan Bapak Eli saat pidato sambutan kepada kami.

Jadi, kalau kamu mau ikutan berseri seperti saya, saya sarankan kamu untuk mengunjungi Kampung Kemuning, yang merupakan Kampung Berseri Astra di Yogyakarta. Dekat kok, hanya dengan perjalanan sekitar satu setengah jam doank dari Yogyakarta. Kalau kamu mau ke sana, kabari saya ya. Siapa tahu saya juga boleh ikutan hehe.


Oh ya untuk liputan mengenai perjalanan saya selama di Kampung Kemuning ini, kamu bisa mengunjungi channel Youtube saya ini ya. Terima kasih.

#LFAAPAJogja
)* Posyandu = Pos Pelayanan Terpadu
Balita = Bawah Lima Tahun
Lansia = Lanjut Usia