gaya hidup, Pendidikan, reportase, Review

Berkunjung ke YIS, Sekolah dengan Kurikulum IB

IMG-20191204-WA0016 - Copy
Saya saat mengikuti acara YIS Open House. (Foto oleh Sapti Nurul)

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Rabu, 4 Desember 2019, saya berkesempatan untuk mengunjungi YIS (Yogyakarta Independent School), sebuah sekolah internasional di Yogyakarta. YIS ini berlokasi di Jalan Tegal Mlati No.1, Jombor Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saya berkunjung kesana dalam rangka menghadiri acara YIS Open House. Acara tersebut diselenggarakan oleh YIS untuk memperkenalkan lebih dalam lagi mengenai YIS, kepada masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Baik itu kepada keluarga WNI, maupun kepada WNA yang tinggal dan menetap di Yogyakarta dan sekitarnya.

YIS Open House 2019

YIS merupakan sebuah sekolah yang menerapkan standar internasional dalam penyelenggaraannya. Sehingga, para siswa yang bersekolah di sini akan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. Para siswa akan berinteraksi dengan guru, staf sekolah, dan sesama siswa dalam Bahasa Inggris.

20191204_162639
Suasana di ruang kelas Kindergarten di YIS. (Dokumen pribadi)

Kesan pertama begitu saya memasuki kawasan sekolah ini adalah sebuah kata, sejuk. Iya, sekolah ini bisa dirasakan sangat kental dengan suasana sejuk. Begitu luas area terbuka hijau yang ada di kawasan sekolah YIS ini. Bahkan sejak memasuki pintu gerbang, nuansa asri dari berbagai tanaman yang ada, memanjakan mata pengunjungnya. Termasuk saya.

Walaupun YIS ini adalah sebuah sekolah internasional, namun nuansa Indonesia masih terasa di sini. Saya mendapati sebuah ruangan terbuka mirip dengan pendopo sebuah joglo di kawasan sekolah YIS. Para siswa YIS biasanya menikmati bekal makan siang mereka di pendopo ini. Pasti asyik banget tuh, makan siang sambil menikmati angin sepoi-sepoi di pendopo.

YIS sudah didirikan sejak tahun 1989 dan menjadi sebuah sekolah unggulan di Yogyakarta, yang merupakan program dari YPIY (Yayasan Pendidikan Internasional Yogyakarta). YIS dikelola oleh tim pendidik dari berbagai negara. Beberapa guru memang berasal dari luar negeri, yang siap mengabdi untuk mendidik dan memberi teladan bagi para siswanya.

Saat itu, saya mendapati beberapa siswa yang sepertinya bukan berasal dari Indonesia. Terlihat dari penampilan mereka yang seperti dari keturunan Eropa. Beberapa siswa lainnya juga tampak seperti dari Timur Tengah dan Asia Barat. Saya pun menjadi semakin terkagum pada sekolah ini.

Oh ya, siswa di YIS ini tidak menggunakan seragam yang terlalu formal, selayaknya seragam sekolah saya dulu, yang berupa kemeja berpotongan resmi. Saya melihat bahwa para siswa menggunakan kaos polo shirt, yang berlogo sekolah YIS. Santai, namun tetap sopan dan stylish.

Desain gedung utama sekolah YIS terasa sangat modern. Bagi saya, malah lebih mirip seperti gedung kampus untuk mahasiswa, untuk anak kuliahan, bukan seperti gedung sekolah konvensional -seperti sekolah saya dulu, hehe-.

20191204_155400 - Copy
Ibu Kimberly, selaku Kepala Sekolah YIS, didampingi Ibu Maya, saat menyambut kami dalam acara YIS Open House. (Dokumen pribadi)

Kemudian Ibu Kimberly Kingry, selaku Kepala Sekolah YIS menyambut kami. Beliau mempersilakan kami untuk bergabung ke dalam acara YIS Open House, bersama dengan beberapa calon orang tua siswa. Saya melihat ada beberapa keluarga yang nampaknya bukan WNA, selain ada beberapa keluarga yang lain yang berasal dari WNI, termasuk dua keluarga WNI yang duduk satu meja bersama saya dan Kak Sapti.

Pada saat YIS Open House ini, Ibu Kimberly berkata bahwa YIS mengajak para orang tua sebagai mitra pembelajaran bagi anak selaku siswa. Jadi, bersama dengan sekolah, YIS percaya bahwa kemitraan antara orang tua dalam proses pembelajaran anak sangat penting, sebagai fondasi untuk kesuksesan anak di bidang akademik dan non akademik, yang berguna bagi kehidupan siswa.

Ibu Kimberly juga menyampaikan mengenai pentingnya pendidikan internasional bagi masa depan anak sebagai siswa. Para siswa akan diajak untuk berpikir secara global, dan bertindak secara lokal, untuk memberikan dampak positif bagi lingkungannya. YIS ingin memberikan kesempatan kepada para siswanya agar menjadi generasi pembelajar dan pemikir yang peduli, selalu ingin tahu, dan berpola pikir kritis.

Ibu Kimberly menyampaikan bahwa YIS menerapkan International Baccalaureate. Nah, apa itu International Baccalaureat? International Baccalaureate merupakan suatu yayasan pendidikan internasional yang telah dirancang untuk mempersiapkan siswa dalam menemukan tempat dan keunggulan mereka di dunia. Yayasan International Baccalaureate (IB) ini berfokus pada pendidikan berbasis inkuiri yang mempersiapkan siswa untuk sukses dengan mengajar mereka untuk berpikir kritis dan mandiri. Dan YIS adalah satu-satunya sekolah IB di Yogyakarta. Keren kan?

YIS ini memang merupakan satu-satunya sekolah internasional di Yogyakarta yang telah disahkan untuk menawarkan rangkaian lengkap pendidikan IB bagi anak-anak dari usia 3 tahun sampai 18 tahun. Ibu Kimberly menambahkan bahwa YIS menawarkan program Primary Years Programme (PYP) / program tingkat PUD-SD, Middle Years Programme (MYP) / program tingkat SMP, serta Diploma Programme (DP) / program setingkat SMA, yang semua dokumen pendidikannya seperti rapor, ijazah, dan sertifikat yang diterbitkan oleh YIS sepadan dengan sekolah internasional lainnya di Indonesia dan luar negeri, sekaligus universitas di seluruh dunia.

20191204_163444
Suasana Campus Tour di salah satu ruang kelas, saat acara YIS Open House. (Dokumen pribadi)

Oh ya, di YIS, walaupun kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum internasional, namun berdasarkan lisensi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, YIS pun mengintegrasikan mata pelajaran inti dari Ujian Nasional (UN), khususnya bagi siswa Indonesia. YIS juga mempunyai kegiatan ekstra kurikuler bagi para siswa, seperti klub musik, bola basket, bela diri taekwondo, dan sebagainya.

Kegiatan berikutnya dari YIS Open House 2019 ini adalah campus tour, yakni berkeliling mengunjungi satu per satu ruangan yang ada di dalam lingkungan sekolah YIS. Ruangan kelas yang ada ditata sedemikian rupa supaya terasa santai. Mirip seperti suasana ruang kelas yang ada di film-film luar negeri. Jadi terasa asyik dan nyaman untuk belajar. Beberapa bagian kelas dihiasi dengan karya-karya siswa seperti gambar, prakarya, kerajinan tangan, dan puisi. Menarik sekali.

20191204_164048
Salah satu sudut di sebuah ruang kelas di YIS, sangat menarik dengan dihiasi karya para siswa. (Dokumen pribadi)

Di dalam lorong yang menghubungkan antar ruang kelas, terdapat beberapa rak buku yang penuh dengan buku-buku yang siap untuk dibaca. Lengkap dengan beberapa meja dan kursi. Memang lorong ini difungsikan sebagai ruang perpustakaan terbuka. Saya hanya berdecak kagum pada desain ruangan yang terasa sangat nyaman ini. Serasa tidak ingin pulang saja, ingin ikutan belajar juga di sini, hehe.

20191204_171948 Copy
Saya saat berada di ruang perpustakaan sekolah YIS, saat mengikuti YIS Open House. (Foto oleh Sapti Nurul)

Itu tadi cerita pengalaman saya mengunjungi sekolah YIS. Jika anda ingin berkunjung juga, atau ingin mengetahui lebih lanjut mengenai YIS, silakan saja menghubungi Yogyakarta Independent School (YIS) melalui surel di info@yis-edu.org atau melalui telepon di nomor +62274 5305147 atau +6282241044242, atau melalui alamat surat PO Box 1175 Yogyakarta, Indonesia 55284. Anda juga bisa mengikuti sosial media YIS di Instagram @yogyakartaindependentschool atau melalui laman www.yis-edu.org .

Yogyakarta Independent School. Aim High, Be Relevant, Make a Difference!

 

gaya hidup, Musik, Review

Meleleh bersama Ardhito Pramono di Lovepotted Extra Attention

20191126_182901.jpg
Saya di depan backdrop acara Lovepotted with Ardhito Pramono. (Foto oleh Priyo Harjiono)

Selasa, 26 November 2019, kembali Mezzanine Coffee and Eatery yang berlokasi di Jalan Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta, bekerjasama dengan Signature Time Out, menyelenggarakan acara musik, bertajuk Lovepotted Extra Attention. Mezzanine Coffee and Eatery sebelumnya pernah menghadirkan artis-artis ibukota, seperti Kotak, Vierratale, Element Reunion, Yura Yunita, dan Kunto Aji, untuk tampil menghibur pengunjungnya. Dan kali ini, Mezzanine Coffee and Eatery menghadirkan Ardhito Pramono.

Ardhito Pramono merupakan seorang musisi yang tengah naik daun. Dia sangat terkenal di kalangan anak muda yang menggemari musik jazz. Dia tidak saja terkenal di dunia nyata dengan penampilan off air dari panggung ke panggung, namun juga sangat popular di dunia maya. Terbukti dengan pengikut setianya yang telah mencapai angka lebih dari 131.000 orang yang mengikuti saluran Youtube-nya, dengan jumlah pemirsa yang mencapai lebih dari 5.390.465 tampilan, serta pendengar setia bulanannya di platform musik digital Spotify yang menyentuh angka 820.732 orang. Karya-karya musisi berusia 24 tahun ini sangat fenomenal dan enak untuk dinikmati, seperti Bitterlove yang telah turut didendangkan oleh 6.867.720 orang yang mengklik videonya.

Tahun ini, Ardhito meraih nominasi di ajang penghargaan musik tertinggi di Indonesia, Anugerah Musik Indonesia 2019 (AMI Awards 2019). Melalui kategori Artis Solo Pria Pop Terbaik, Artis Jazz Vokal Terbaik, dan Karya Produksi Folk/Country/Balada Terbaik, dia berhasil menancapkan kukunya sebagai musisi muda millennial Indonesia yang berprestasi. Dan melalui karyanya yang berjudul Superstar, dia berhasil meraih penghargaan Artis Jazz Vokal Terbaik di AMI Awards 2019 tersebut. Selain itu, Ardhito merupakan brand ambassador dari sebuah produk minuman teh dan sabun muka.

01_Poster_Utama.jpg
Poster resmi acara ini.

Ardhito tidak tampil sendirian saja di Lovepotted kali ini. Melainkan didampingi oleh penyanyi indie asal Yogyakarta, yakni Okky Kumala Sari. Sepak terjang Okky di dunia tarik suara sudah tak perlu diragukan lagi. Okky mempunyai akun Youtube yang berisikan video-videonya tengah menyanyikan ulang lagu-lagu yang tengah hits, dan sudah diikuti oleh sebanyak 34.000 pengikut. Dan total sudah ada 62.765 kali video-videonya disaksikan. Okky juga sudah menjuarai berbagai perlombaan tarik suara. Jadi sudah tak perlu ada keraguan akan kemampuan olah suara yang dimiliki oleh dara cantik berusia 24 tahun ini. Dengan suaranya yang lembut dan sangat feminin, wanita ini akan berkolaborasi dengan teman-temannya sesama musisi Yogyakarta, seperti Josh, Yohanes, Baswara, dan Dimas, untuk tampil di panggung Lovepotted volume ini.

Penampilan Ardhito di Lovepotted

Saya bersama sembilan orang blogger-influencer asal Yogyakarta lainnya, mendapatkan kehormatan dengan diundang untuk menghadiri Lovepotted Extra Attention by Mezzanine and Signature Time Out, sebagai tamu VIP. Duh, jadi berasa famous donk ya. Gerbang masuk ke Mezzanine resmi dibuka pukul 17:00 WIB untuk umum dan 18:00 WIB untuk VIP, sementara acara baru akan dimulai pukul 18:30 WIB.

IMG-20191126-WA0024
Saya bersama beberapa blogger-influencer Yogyakarta lainnya yang turut hadir di Lovepotted edisi kali ini. (Foto oleh Ipul Soedibjo dan Agata Vera)

Saya dan teman-teman sesama blogger-influencer Yogyakarta, baru lengkap berkumpul pada pukul 18:15 WIB. Kami pun satu per satu memasuki venue. And you know what, di area depan, kami langsung disambut oleh backdrop segede gaban yang menampilkan wajah dari Ardhito Pramono. Kemudian kami juga disambut oleh kakak-kakak cantik dan ganteng dari Signature Time Out, yang mempersilakan kami untuk mengisi waktu dengan bermain beragam permainan, dimana di setiap permainan akan mendapatkan poin yang bisa dikumpulkan dengan beragam merchandise menarik, seperti T-shirt, blocknote, baseball cap, dan lain sebagainya. Permainan yang disediakan adalah bermain puzzle berbentuk pipa air ledeng di komputer tablet, kemudian sejenis permainan ular tangga, ada juga permainan memasukkan bola tennis ke dalam keranjang, dan berfoto di spot tertentu yang sudah disediakan. Saya sendiri berhasil mengumpulkan poin sempurna, 400 poin, yang kemudian saya tukarkan dengan T-shirt.

Berhubung saya (dan juga teman-teman sesama blogger-influencer lainnya) hadir sebagai tamu VIP, kami mendapatkan special privilege donk. Yakni kami disediakan ruangan khusus untuk menikmati acara Lovepotted ini. Di dalam ruangan tersebut, kami bergabung bersama rekan-rekan lainnya dari beberapa media massa yang ada di Yogyakarta, serta bersama beberapa fotografer kenamaan Yogyakarta.

Sekitar pukul 19:00 WIB, Syarif Acil dan Mozza yang bertindak selaku tuan rumah, membuka acara. Seperti biasa, pasti ada bagi-bagi doorprize bagi para pengunjung Mezzanine Coffee and Eatery yang sudah hadir. Kemudian disusul penampilan dari Okky Kumala dan rekan yang membawakan beberapa lagu top 40 dan beberapa lagu nostalgia era 2000an, seperti Pilihanku-Maliq & D’Essentials dan Kisah Romantis-Glenn Fredly. Suara Okky sangat lembut mendayu. Sangat nge-blend dengan aransemen musik yang dibawakan oleh rekan-rekannya. Dia berhasil menghipnotis sekaligus membakar semangat dari sekitar 250 pengunjung Mezzanine yang hadir malam itu.

Sekitar pukul 21:30 WIB barulah Ardhito Pramono tampil di panggung. Dia tampil bersama beberapa rekan musisinya yang khusus dia boyong dari Jakarta, untuk tampil di acara Lovepotted ini. Bitterlove, Bila, Fake Optics, Cigarettes of Love, Superstar, dan masih banyak lagi lagu-lagu karyanya yang dia bawakan. Ardhito berhasil memukau seluruh penggemarnya yang hadir.

Beberapa dari mereka terhanyut dalam performance atraktif yang dibawakan oleh Ardhito dan rekan. Mereka meleleh ke dalam suasana romantis nan energetik yang dihadirkan oleh Ardhito dan rekan, melalui lagu-lagunya. Ardhito juga beberapa kali turun panggung, untuk menyapa para penggemarnya secara langsung. Beberapa di antara mereka juga mengabadikan momen istimewa ini melalui ponsel pintar mereka masing-masing. Dan setiap kali Ardhito kembali naik panggung, energi di seluruh ruangan kembali panas terbakar, untuk kembali larut dalam menikmati alunan musik yang dibawakan.

a-1.jpg
Penampilan Ardhito Pramono. (Foto oleh saya)

Saya sendiri berhasil terhanyut dalam suasana Lovepotted, pada saat Ardhito dan rekan membawakan Bitterlove. Sebuah lagu tentang cinta yang –memang tidak selamanya terasa manis- terasa pahit, terasa getir. Bitterlove bukan lagu sedih yang mendayu-dayu ala sobat ambyar –yang sedang hangat-hangatnya saat ini-, namun sebuah karya musik yang justru ingin mengajak para penikmat lagunya untuk menikmati rasa pahit itu, rasa getir itu, dengan alunan musik yang menghentak, dan mengajak bergoyang, namun tetap terasa meleleh.

Jadi, apakah kamu juga ingin meleleh bersama Ardhito?

Film, gaya hidup, Resensi, Review

The Snow Queen: Mirrorlands, Melebihi Ekspektasi

MV5BODcyMzcyMWUtZjE5Mi00MTZiLWI2MmQtOGM2MDc0YmM1YjlkXkEyXkFqcGdeQXVyNTczOTM5MTQ@._V1_SY1000_SX700_AL_
Poster resmi The Snow Queen: Mirrorlands (2019).

Sebagai orang yang menggemari cerita dongeng, sekaligus penggemar film animasi, terus terang saya terlambat mengikuti serial film animasi layar lebar tiga dimensi yang berjudul The Snow Queen, produksi Wizart Animation, Rusia. Ternyata, seri ini telah memasuki volume keempat yang beredar tahun ini, yakni The Snow Queen: Mirrorlands. Setelah sebelumnya telah beredar The Snow Queen pada tahun 2012, disusul The Snow Queen 2: The Snow King pada tahun 2015, serta kemudian The Snow Queen 3: Fire and Ice pada tahun 2016. Dan semuanya ditayangkan secara resmi di Indonesia melalui jaringan CGV.

The Snow Queen: Mirrorlands sendiri sudah beredar di Indonesia sejak 8 November 2019 yang lalu, dengan distributor CBI Pictures. Walaupun sebenarnya film animasi ini sudah dirilis secara resmi di negara asalnya, Rusia, pada awal tahun baru 2019. Film seri The Snow Queen ini sendiri terinspirasi dari dongeng klasik karya salah satu maestro dongeng dunia asal Denmark, Hans Christian Andersen.

Beruntungnya saya, karena saya mendapatkan undangan untuk menyaksikan film animasi ini, satu hari sebelum penayangan resminya, pada saat pre-release yaitu pada 7 November 2019, di Bioskop CGV Sahid J-Walk, Yogyakarta. Pada saat itu, saya berkesempatan menyaksikan film animasi ini bersama beberapa blogger dan influencer Yogyakarta lainnya, serta adik-adik dari Panti Asuhan Darun Najah, Maguwoharjo, Sleman.

AAAAA
Saya bersama beberapa teman sesama blogger dan influencer Yogyakarta, sesaat setelah menyaksikan The Snow Queen: Mirrorlands, di CGV Sahid J-Walk, Yogyakarta.

Cerita yang Melebihi Ekspektasi

The Snow Queen: Mirrorlands sendiri melanjutkan kisah tentang tokoh utamanya, Gerda, yang harus membebaskan keluarganya yang terjebak di dunia cermin, Mirrorlands. Sementara dia sendiri, merupakan satu-satunya orang di dalam keluarganya yang tidak mempunyai kekuatan sihir.

Pada saat itu, Raja Harald mengundang seluruh penyihir di seantero penjuru negeri untuk hadir ke istana. Namun semua itu hanya dalih. Raja Harald ingin memenjarakan seluruh penyihir di Mirrorlands, bersama-sama dengan Snow Queen yang sudah terpenjara di dalamnya. Karena Raja Harald mempunyai dendam pada Snow Queen.

Snow Queen sendiri ternyata juga pernah berselisih paham dengan Gerda di volume sebelumnya. Dan saat ini, Gerda dan Snow Queen harus berdamai dan saling bekerja sama agar dapat membebaskan seluruh penyihir dari jebakan Raja Harald, termasuk di dalamnya keluarga Gerda. Gerda juga dibantu oleh pasukan Troll, kawanan bajak laut, dan sahabatnya, Rollan.

Saya sendiri, sejujurnya, memang tidak membawa ekspektasi apa pun saat saya mendapatkan undangan untuk menyaksikan The Snow Queen: Mirrorlands ini. Apalagi saya belum pernah menyaksikan satu pun volume sebelumnya. Bahkan, saya juga belum pernah menyaksikan satu pun film animasi dari Rusia.

Dan ternyata, The Snow Queen: Mirrorlands ini melebihi ekspektasi saya. Cerita yang dihadirkan dalam film ini sangat mengalir. Ringan, tanpa dialog yang panjang dan berbelit-belit. Beberapa adegan juga sangat menghibur, bahkan mampu membuat saya dan penonton lainnya tertawa. Penggambaran animasinya juga sangat detail. Gambar-gambar yang disajikan sangat indah dan memanjakan mata. Pergerakan tokoh sangat luwes, hampir mendekati sempurna seperti animasi dari USA dan Jepang.

The Snow Queen: Mirrorlands ini sangat cocok disaksikan oleh seluruh anggota keluarga. Tidak ada adegan kekerasan yang berlebihan. Apalagi ceritanya juga penuh pesan moral, seperti tentang kepercayaan diri, perdamaian, kerja sama, persahabatan, dan masih banyak lagi pesan moral yang tersirat yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Saya sendiri sangat merekomendasikan film ini. Anda dapat menyaksikannya bersama keluarga di akhir pekan. Score dari saya adalah 7 dari 10. Selamat menyaksikan.

The Snow Queen: Mirrorlands
Sutradara: Robert Lence, Aleksey Tsitsilin
Naskah : Andrey Korenkov, Robert Lence, Vladimir Nikolaev, Aleksey Tsitsilin, Aleksey Zamyslov
Produser : Boris Mashkovtsev, Yuriy Moskvin, Vladimir Nikolaev, Pavel Stepanov, Vadim Vereshchagin
Rumah Produksi : Wizart Animation, Rusia
Distributor Indonesia : CBI Pictures dan CGV Cinemas Indonesia
Durasi : 80 menit
Tanggal Rilis : 1 Januari 2019 (Rusia), 8 November 2019 (Indonesia)

Film, gaya hidup, Review

Film Mahasiswi Baru, Kocak dan Menghibur

66430227_488596471899395_1528653407980637168_n
Official Poster dari Film Mahasiswi Baru karya Monty Tiwa produksi MNC Pictures. (Dokumen MNC Pictures)

Halo, sob. Lama juga saya ga menulis blog. Kali ini berjumpa lagi bersama saya di tulisan baru ini. Saya akan menulis tentang sebuah film yang sebentar lagi akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 8 Agustus nanti, yakni sebuah film karya sutradara Monty Tiwa, berjudul Mahasiswi Baru.

Dengan mengetahui judulnya saja, saya yakin kamu akan berasumsi bahwa film ini akan menyajikan cerita mengenai perjalanan seorang gadis remaja dalam memasuki satu tahap jenjang pendidikan, yaitu berkuliah, dengan menjadi seorang mahasiswi yang baru saja diterima di sebuah kampus.

65312679_2053831908257185_3225445937027793639_n
Beberapa pemeran dalam Film Mahasiswi Baru, ki-ka: Morgan Oey, Mikha Tambayong, Widyawati, Sonia Alyssa, dan Umay Shahab.  (Dokumen MNC Pictures)

Saya juga tadinya beranggapan demikian. Namun ternyata, Film Mahasiswi Baru ini justru berkisah mengenai seorang nenek berusia 70 tahun bernama Lastri, yang baru saja mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang mahasiswi.

Apa? Nenek-nenek kuliah? Ya, demikian lah adanya.

Sebenarnya sih, kalau bagi saya, yang saat ini juga tengah mendobel dengan berkuliah di Universitas Terbuka -salah satu universitas negeri yang tidak memberlakukan batas maksimal umur- bertemu dengan teman kampus yang telah berusia lanjut, sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Dan mungkin bagi beberapa kampus di luar negeri, ada orang berusia lanjut masih berkuliah -dalam hal ini jenjang S1- adalah hal wajar dan biasa.

Namun, di kehidupan nyata, terutama di Indonesia, fenomena nenek-nenek yang berkuliah S1, belum menjadi hal yang dianggap biasa. Dan hal inilah yang hendak diangkat oleh Monty Tiwa dalam film ini.

Trailer Kocak yang Mengocok Perut

Film Mahasiswi Baru ini memang baru akan tayang bulan depan, tepatnya pada tanggal 8 Agustus 2019. Namun trailer resmi dari film ini, sudah dapat kamu saksikan melalui akun Youtube dari MNC Pictures, selaku rumah produksinya. Dan trailernya sendiri saat ini telah ditonton sebanyak 1,2 juta kali lho, sob.

Sebenarnya bukan yang mengherankan jika trailer Film Mahasiswi Baru ini bisa menembus jumlah yang cukup fantastis, 1,2 juta views, mengingat dari trailernya sudah dapat ditebak jika film ini akan bergenre komedi. Salah satu genre yang sangat popular di Indonesia.

Monty Tiwa sendiri sudah berkecimpung di dunia layar perak selama lebih dari 17 tahun. Beberapa film karyanya memang mengambil genre komedi. Sebut saja “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda” (2007), “Laskar Pemimpi” (2010), “Get Married 3” (2011), dan “Get M4rried” (2013), yang cukup sukses di pasaran. Jadi, jika kini Monty Tiwa kembali ke genre komedi melalui Film Mahasiswi Baru ini, bisa lah kita sebagai penonton memberikan ekspektasi kepada beliau. Dan hal ini bisa kita saksikan melalui trailer Film Mahasiswi Baru yang sangat kocak.

D_1TBGUUYAANSkL
Adegan saat Lastri (Widyawati) sedang mengikuti acara orientasi pengenalan kampus, saat bertemu dengan kakak tingkatnya yang menjadi panitia, dalam Film Mahasiswi Baru. (Dokumen MNC Pictures)

Lihatlah sejak detik-detik awal, trailer Film Mahasiswi Baru ini telah mampu mengundang tawa dan mengocok perutmu. Semenjak munculnya tokoh Lastri –diperankan oleh aktris senior yang awet muda, Widyawati- yang tengah mengikuti acara orientasi pengenalan kampus, lengkap dengan atribut konyol khas maba (mahasiswa baru), seperti rambut penuh pita, kalung papan nama dari kertas, dan make up cemang-cemong, sedang dikerjain oleh kakak tingkatnya yang menjadi panitia orientasi.

Detik-detik berikutnya juga sangat kocak. Seperti saat ada scene Lastri sedang berkumpul dengan teman-teman satu gank kampus seangkatannya, yang umurnya sama dengan umur cucunya, seperti Danny (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa). Begitu juga saat Lastri sedang menggoda dosen (Slamet Rahardjo) sambil mengucapkan “Yoaaa Braaaay” seperti anak muda. Kedua scene ini sangat mengundang tawa lho, sob. Apalagi peran karakter Lastri ini diceritakan sebagai seorang nenek lincah yang sangat rajin belajar dan bergaul.

D_1UJahVAAA1fm6
Adegan saat Lastri (Widyawati) sedang menemui dosennya (Slamet Rahardjo), dan berlagak seperti anak muda, dalam Film Mahasiswi Baru. (Dokumen MNC Pictures)

Jika menilik dari trailer-nya, Film Mahasiswi Baru ini akan mengupas masalah keluarga juga, dimana akan muncul tokoh anak dan menantu Lastri (Karina Suwandi dan Iszur Muchtar), yang akan mengambil bagian penting dalam menentukan langkah yang diambil oleh Lastri. Jadi, akan ada beberapa scene drama keluarga yang mengharukan di dalam film ini. Dan tentunya, ada pesan moral yang hendak diusung oleh Monty Tiwa dan MNC Pictures, yakni “belajar sepanjang hayat, tidak mengenal usia”, maka tetaplah bersemangat belajar dan berkuliah sampai di usia lanjut.

Film Mahasiswi Baru ini selain menampilkan acting memukau dari aktris Widyawati, juga akan didukung oleh aktor muda Morgan Oey dan Umay Shahab. Aktris cantik Mikha Tambayong, pendatang baru Sonia Alyssa, aktris cantik Karina Suwandi, komedian Iszur Muchtar dan Ence Bagus juga akan bermain dalam film ini. Dan akan ada juga penampilan spesial dari aktor senior yang telah meraih beragam penghargaan melalui bakatnya, yaitu Slamet Rahardjo.

Jika kamu sudah ga sabar ingin menyaksikan film ini, kamu bisa menyimak trailernya terlebih dahulu di sini. Karena film ini kental dengan nuansa komedi dengan berlatar belakang dunia kuliah dan kehidupan keluarga, serta persahabatan, maka aku rekomendasikan film ini untuk kamu saksikan bersama teman-teman dan keluargamu. Filmnya pasti cocok untuk anak muda, anak kuliahan, orang dewasa, dan pastinya buat kamu yang sudah berkeluarga.

Kamu juga bisa mengikuti akun media sosial resmi dari Film Mahasiswi Baru melalui Instagram @film_mahasiswibaru dan melalui Twitter @mncp_movie serta channel Youtube MNC Pictures. Serta saksikan Film Mahasiswi Baru di bioskop-bioskop kesayangan kamu mulai 8 Agustus 2019.

Oh ya, untuk kamu alumnus UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), seperti saya, atau yang masih menjadi mahasiswa-mahasiswi UNY, saya kasih tahu sebuah rahasia ya. Syuting Film Mahasiswi Baru ini dilakukan di beberapa lokasi yang ada di UNY lho. Jadi kamu bisa bernostalgia dengan kampus ungu kita itu, hehe. Okay, sampai jumpa di tulisan saya berikutnya ya.

gaya hidup, perjalanan, Review, travelling

GatheringPositif Bermedia Sosial dari Gerakan Nasional Revolusi Mental 2019

20190520_104843
Wahyu saat mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial 2019. (Dokumentasi pribadi)

Halo, kawan. Lama juga ya kita tidak berjumpa. Kali ini, Wahyu ingin bercerita kepada kamu semua, bahwa Wahyu baru saja mengikuti sebuah acara yang keren banget. Jadi pada hari Senin, 20 Mei 2019 yang lalu, Wahyu berkesempatan untuk mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Tepatnya acara ini diadakan di Pendopo Utama Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Acara yang bertema “Pembangunan Karakter yang Berwawasan Budaya Menuju Indonesia Mandiri” ini mengundang banyak pelaku digital yang berasal dari generasi muda yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti menghadirkan para penggiat komunitas, blogger, vlogger, netizen aktif generasi muda, serta para penggiat media sosial. Acara ini dipandu oleh seorang MC senior dari Yogyakarta, yaitu mas Anang Batas. Oh ya, dalam kesempatan ini, Wahyu bersama dengan seorang kawan bernama Prima, hadir mewakili dari profesi blogger, karena Wahyu mendapatkan undangan dari Blogger Crony Community, dimana Wahyu dan Prima tergabung di dalamnya sebagai anggota.

IMG-20190520-WA0047
Para Pembicara berfoto bersama beberapa peserta. (Dokumen GNRM)

Pada acara ini terdapat segmen bincang-bincang (talkshow) yang menghadirkan empat orang pembicara, yang kesemuanya mengajak para peserta untuk tetap bijak dalam menggunakan media sosial, baik itu Twitter, Facebook, Instagram, blog, vlog, dan sebagainya. Pembicara pertama adalah GKR Hayu, yang bertindak selaku penghageng Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi yang ada di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang bertugas menangani urusan IT dan dokumentasi. Beliau membawakan tema “Mengenali Jati Diri Warisan Budaya dan Kiprah Kasultanan di Era Milenial”. Salah satu pesan yang beliau sampaikan adalah “Modernisasi itu tidak selalu berarti Westernisasi. Budaya Jawa juga bisa Modern”.

Pembicara kedua adalah ibu Tri Mumpuni, Anggota Gugus Tugas Nasional GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang memaparkan tema Aksi Nyata Revolusi Mental : Menjaga Hati. Pembicara ketiga adalah bapak Wahyu Aji, yang merupakan CEO Good News From Indonesia, serta bapak Noudhy Valdryno, Facebook Indonesia, yang menjadi pembicara keempat. Kedua pembicara berpesan untuk tetap menggunakan media sosial secara positif untuk keberlangsungan Indonesia yang lebih baik. Keempat pembicara ini dipandu oleh bapak Said Hasibuan dari Relawan TIK selaku moderator. Segmen bincang-bincang ini berlangsung seru, karena di antara pembicara dan peserta terlibat sebuah diskusi yang hangat, yang sama-sama sepakat untuk menggunakan media social secara bijak dan positif demi keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Setelah acara bincang-bincang, para peserta disuguhi sajian Tari Salak yang merupakan tari kreasi baru yang menggambarkan tentang Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi, yang identik dengan perkebunan salak. Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yang semuanya dinamai dengan tiga prinsip dasar Gerakan Nasional Revolusi Mental, yakni Integritas, Etos Kerjam dan Gotong Royong, yang kemudian peserta dipersilakan untuk menikmati beragam kegiatan yang ada di dalam Paket Wisata Desa Wisata Pulesari Wonokerto ini, yakni Kegiatan Susur Desa (Field Trip), Kegiatan menikmati Permainan Rakyat, dan mengikuti Kegiatan Olahraga Tradisional.

Karena Wahyu termasuk di dalam kelompok Etos Kerja, maka kelompok Etos Kerja mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Olahraga Tradisional, kemudian kegiatan Permainan Rakyat, dan terakhir adalah kegiatan Susur Desa. Untuk kelompok lain seperti kelompok Integritas dan kelompok Gotong Royong, kegiatannya sama persis, hanya urutannya saja yang berbeda.

IMG-20190521-WA0000
Wahyu dan beberapa peserta tengah mencoba melakukan Jemparingan. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan menikmati Olahraga Tradisional diawali dengan mengikuti aktifitas olahraga Jemparingan, yang mirip dengan panahan. Yang membedakan adalah Jemparingan merupakan aktifitas olahraga panahan yang menggunakan peraturan dan tata cara khas Jawa, yang di antaranya seperti penggunaan pakaian tradisional Jawa (seperti beskap untuk pria, dan kebaya untuk wanita), kegiatan Jemparingan yang dilakukan dalam posisi duduk bersila, bahan busur (jemparing) yang terbuat dari material kayu. Walaupun Wahyu pernah melakukan kegiatan panahan sebelumnya, ternyata melakukan Jemparingan ini terasa perbedaannya. Ternyata busur dan tali busurnya itu sangat berat untuk ditarik. Sebuah tantangan yang mengasyikkan. Kemudian setelah melakukan Jemparingan, peserta diajak untuk menikmati atraksi pencak silat dari Kelompok Satria Tama, yang berasal dari Desa Wonokerto, yang dimana pencak silat merupakan olahraga asli Indonesia tercinta.

20190520_141024
Beberapa anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto tengah melakukan permainan rakyat, dengan menggunakan busana tradisional. (Dokumentasi pribadi)

Kegiatan kedua adalah menikmati kegiatan Permainan Rakyat, seperti egrang, dakon, bakiak, telepon benang, dan sebagainya. Kegiatan ini dipandu oleh kakak-kakak dari Komunitas Kampoeng Hompimpa, sebuah komunitas yang peduli pada kelestarian permainan rakyat Indonesia yang hadir dari keprihatinan melihat generasi muda dan anak-anak Indonesia yang menghabiskan waktunya lebih banyak menggunakan gawai (gadget) daripada bermain secara langsung di dunia nyata. Permainan rakyat ini diperagakan oleh anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto dalam balutan pakaian tradisional. Sungguh menyenangkan bagi Wahyu, ketika melihat beragam permainan rakyat Indonesia ini dimainkan, menjadi semacam pemutaran memori mengenang masa lalu saat Wahyu masih anak-anak di era ‘90an.

A
Wahyu saat mengikuti kegiatan Susur Desa. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan terakhir adalah kegiatan Susur Desa, yang terdiri atas menyusuri sungai-sungai kecil yang ada di Pulesari yang kemudian menyusuri area perkebunan salak, yang kemudian mendapatkan oleh-oleh olahan salak yang merupakan sajian khas dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto. Kegiatan Susur Desa ini dimaksudkan agar para peserta dapat menikmati keindahan panorama alam yang ada, dan semakin meningkatkan kembali kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Oh ya, saat Wahyu pulang, Wahyu dan peserta lain mendapatkan goody bag yang salah satu isinya adalah sedotan stainless steel, yang merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan dengan mengurangi sampah sedotan plastik. Keren banget ya tujuannya. Dan ketiga kegiatan tersebut sama-sama bertujuan positif, yang sesuai dengan tema Revolusi Mental semua ya, kawan.

Demikianlah secuplik cerita Wahyu selama mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman yang lalu. Wahyu ingin mengucapkan terima kasih kepada Blogger Crony Community atas undangannya, terima kasih pula kepada Kemenko PMK RI dan GNRM yang sudah mengadakan acara bagus nan keren ini. Wahyu juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang sudah meluangkan waktu untuk menyimak cerita Wahyu kali ini. Kita berjumpa di cerita Wahyu berikutnya ya.

gaya hidup, Kuliner, Review

Bernostalgia dengan Menu dari Joglo Pari Sewu

IMG-20190409-WA0013
Wahyu saat berada di Joglo Pari Sewu. (Photo by Nova Aristanto)

Halo, good people. Wahyu mau cerita lagi nih. Jadi beberapa hari yang lalu, Wahyu berkesempatan mengunjungi sebuah rumah makan yang asri dan penuh nuansa alam. Namanya Joglo Pari Sewu. Saat itu, Wahyu dan beberapa rekan influencer lainnya, mendapat undangan khusus dari Joglo Pari Sewu dengan dikoordinir oleh seorang vlogger senior Jogja, mas Andreas.

IMG-20190409-WA0012
Wahyu bersama vlogger senior Jogja, mas Andreas, saat berada di Joglo Pari Sewu. (Photo by Nova Aristanto)

Ngomong-ngomong nih, Joglo Pari Sewu ini berlokasi di kawasan Desa Wisata Bromonilan, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman. Dan ternyata, Desa Wisata Bromonilan ini merupakan sebuah desa wisata rintisan yang diresmikan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman pada akhir tahun 2018. Oh ya, Joglo Pari Sewu ini terletak di sebelah aliran sungai Kali Kuning, yang merupakan bagian dari Desa Wisata Bromonilan ini, good people. Jadi jika kamu berkunjung ke sini, kamu akan mendapatkan pemandangan keren dari aliran sungai Kali Kuning yang menyejukkan mata, hati dan pikiranmu.

FotoJet1
Beberapa spot di Joglo Pari Sewu. (Photo by Wahyu Prasetya)

Joglo Pari Sewu ini merupakan sebuah rumah makan yang berkonsep Resto Wisata Jogja, yang mempunyai pemandangan alam khas pedesaan yang masih alami, floating boat lucu bagi anak-anak maupun dewasa, aktifitas berenang di sungai Kali Kuning, dan tentunya yang paling utama adalah makanannya. Joglo Pari Sewu mempunyai beragam pilihan kuliner untuk bisa kamu nikmati. Di sini, pengunjung juga bisa menikmati rasa geli ketika melakukan terapi ikan, ketika ada ratusan ekor ikan mengerubungi kulit kaki, yang katanya ikan-ikan ini akan memakan sel kulit mati yang ada di kaki kamu. Geli banget beneran. Dan di sini juga ada fasilitas Rumah Boneka yang mempunyai ratusan koleksi boneka yang menggemaskan dan instagrammable.

Joglo Pari Sewu ini sendiri mempunyai kapasitas yang cukup besar. Daya tampungnya bisa mencapai 150 orang, sehingga cocok banget tuh untuk kamu yang ingin melaksanakan acara-acara seperti meeting kantor, reuni alumni, arisan keluarga, arisan teman-teman, karyawisata anak-anak sekolah, darmawisata anak kuliahan atau orang kantoran. Atau sekadar berkumpul bersama keluarga, juga bisa. Jadi Joglo Pari Sewu ini bisa digunakan untuk tempat berkumpulnya acara banyak orang, bisa juga untuk keluarga kecil berkumpul dan bercengkerama.

Menikmati Joglo Pari Sewu dan Rumah Bonekanya

Joglo Pari Sewu ini sangat menyejukkan, karena areanya dipenuhi beragam pepohonan, dan juga berada di dekat daerah aliran sungai. Di sini, terdapat beberapa titik yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati santapan, seperti di gazebo, pendopo, rumah pohon dan taman bambu. Di area Taman Bambu sendiri, berkonsep luar ruangan (outdoor), jadi kamu bisa menikmati kuliner dari Joglo Pari Sewu ini sekaligus menikmati suasana alam dan udara pedesaan secara langsung, sekaligus diiringi suara alam dari pepohonan, rumpun bambu, dan gemericik suara air sungai yang mengalir.

20190409_093842
Beberapa menu prasmanan tradisional yang ditawarkan di Joglo Pari Sewu. (Photo by Wahyu Prasetya)

Khusus di akhir pekan, semua menu makanan Joglo Pari Sewu yang biasanya disajikan di pendopo, akan dibawa turun ke area Taman Bambu ini, sehingga kamu bisa langsung merasakan nikmatnya alam pedesaan sembari menikmati sajian kuliner khas di sini.

Beruntungnya Wahyu, walaupun saat itu Wahyu berkunjung tidak saat akhir pekan, namun saat itu pengelola Joglo Pari Sewu secara khusus menyajikan semua menu-nya di Taman Bambu ini. Khusus untuk Wahyu dan teman-teman Wahyu saja lho. Dan saat itu, Joglo Pari Sewu menyajikan menu prasmanan tradisionalnya.

Uniknya, sistem pembayaran di Joglo Pari Sewu ini menggunakan kupon khusus, yang bisa kamu dapatkan dari karyawan Joglo Pari Sewu ini. Seru banget dech.

Menu prasmanan tradisional dari Joglo Pari Sewu yang disajikan saat itu adalah sayur lodeh, oseng daun   kates, ikan pindang lumpur, bakwan jagung, telur dadar, tempe garit krispi, tempe mendoan, gudeg, pecel, opor telur, sop ceker ayam, dan semur jengkol. Ada pula pilihan nasi putih hangat dan nasi goreng. Wahyu sendiri saat itu memilih menu nasi putih dengan pecel, ditemani opor telur dan tempe mendoan.

IMG-20190409-WA0009
Wahyu saat menikmati minuman jamu dari Joglo Pari Sewu. (Photo by Nova Aristanto)

Untuk minumannya, terdapat pilihan minuman air putih, jamu beras kencur, dan kunyit asam. Dengan ditemani dessert berupa aneka bubur tradisional seperti bubur candil (cendol biji salak), bubur mutiara, bubur ubi ungu, yang dilengkapi topping santan gurih atau areh (gula merah cair), semakin membuat nuansa tradisional Joglo Pari Sewu semakin kental.

Jangan khawatir, semua menu prasmanan tradisional yang disajikan oleh Joglo Pari Sewu ini sangat terasa sedap. Membuat kamu bisa bernostalgia dengan aneka menu masakan tradisional Indonesia.

Nah, setelah selesai kami –Wahyu dan teman-teman influencer- menikmati sajian dari Joglo Pari Sewu ini, kami pun berkunjung ke Rumah Boneka, yang masih berada di kompleks Joglo Pari Sewu. Di dalam Rumah Boneka ini, terdapat beragam boneka dari berbagai ukuran. Favorit Wahyu sendiri tentu saja Doraemon. Semua boneka yang ada di dalamnya sangat lucu dan menggemaskan.

FotoJet2
Wahyu saat berada di dalam Rumah Boneka-Joglo Pari Sewu. (Photo by M. Azaz)

Di Joglo Pari Sewu, selain kamu bisa menikmati menu masakan, dan berkunjung ke Rumah Boneka, kamu juga bisa menikmati floating boat, bermain air di sungai Kali Kuning, dan melakukan terapi ikan. Semuanya ditawarkan dengan harga terjangkau dan dengan paket-paket yang menarik. Untuk keterangan lebih lengkap, kamu bisa berkunjung ke laman resmi atau melalui media sosial resmi dari Joglo Pari Sewu, good people.

20190409_111003
Wahyu berfoto bersama Hello Kitty, di dalam Rumah Boneka-Joglo Pari Sewu. (Photo by Tri Darmini)

Jadi, sekarang kamu sudah ingin bernostalgia dengan menu masakan tradisional Indonesia belum? Kalau iya, Wahyu sangat merekomendasikan Joglo Pari Sewu ini untuk kamu. Ga usah khawatir dengan harga, karena Joglo Pari Sewu menawarkan harga yang terjangkau untuk kantong kamu. Sampai jumpa di cerita Wahyu berikutnya ya.

Joglo Pari Sewu
Website               : http://www.jogloparisewu.com
IG                           : @jogloparisewu @kenyalkental_pudding
FB dan FP            : Joglo Pari Sewu
Twitter                 : @parisewu

FotoJet3

FotoJet4

 

gaya hidup, Kuliner, Review

Menikmati Ayam Goreng Krispy Lezat di Naoki Chicken and Café Kalasan

1IMG-20190406-WA0028
Wahyu saat menikmati menu ayam goreng di Naoki Chicken and Cafe Kalasan.

Good people, apakah kamu pernah mengalami lapar yang sangat berat melanda perut kamu, di saat kamu baru saja pulang dari mengunjungi Candi Prambanan? Wahyu pernah beberapa kali mengalaminya.

Dan jujur, untuk mencari makanan yang cepat saji sekaligus higinis di sepanjang perjalanan Candi Prambanan menuju kawasan Yogyakarta memang agak susah ya. Memang ada beberapa restoran besar di sana, namun yang berbentuk rumah makan siap saji, sungguh tidak mudah untuk dicari.

Bukankah saat lapar berat, kita akan lebih memilih makanan yang sudah siap saji kan, good people?

Kalau beberapa minggu yang lalu, saat Wahyu sehabis berkunjung dari Candi Prambanan dan merasa sangat kelaparan, Wahyu akan memilih makanan cepat saji donk ya. Tentunya dengan harga yang terjangkau. Dan untuk makanan cepat saji, pasti akan identik dengan ayam goreng krispy atau burger.

Untungnya, saat ini, di kawasan Kalasan, tepatnya di Jalan Raya Solo-Yogyakarta Km. 14, Glondong, Tirtomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, atau sekitar 4 km dari Candi Prambanan menuju ke arah Yogyakarta, sudah ada rumah makan baru yang bernama Naoki Chicken and Café Kalasan. Ancer-ancernya sangat mudah, yaitu berada di seberang minimarket Alfamart Kalasan dan sebelah timur RS Bhayangkara Jogja.

Beberapa hari yang lalu, Wahyu bersama beberapa influencer Yogyakarta mendapat undangan untuk menikmati menu baru di Naoki Chicken and Café Kalasan ini.

Wahyu dan teman-teman beruntung banget karena bisa bertemu langsung dengan pengelola dari Naoki Chicken and Café Kalasan ini, yaitu Ibu Tutik, yang tak lain adalah adik dari seorang blogger senior Jogja, Pak Bowo.

IMG_20190406_194902_compressed
Ibu Tutik, pengelola Naoki Chicken and Cafe Kalasan, bersama kakaknya, blogger senior Jogja, Pak Bowo.

Ibu Tutik menceritakan bahwa awal mula beliau berniat membuka usaha rumah makan Naoki Chicken and Café Kalasan ini karena beliau sendiri pernah mengalami keadaan yang sama seperti Wahyu tadi, yakni merasa kelaparan juga saat sepulang bertandang dari Candi Prambanan yang kemudian agak kesusahan mencari rumah makan cepat saji di sepanjang perjalanan Prambanan-Jogja.

Akhirnya, beliau membulatkan tekad untuk membuka Naoki Chicken and Café Kalasan ini pada tanggal 1 April 2019. FYI, Naoki Chicken and Café Kalasan ini merupakan cabang ketiga yang ada di kawasan Yogyakarta lho, good people. Naoki Chicken and Café pertama ada di Jalan Raya Tajem Maguwoharjo, dan yang kedua ada di seputaran Kasihan, Bantul. Naoki sendiri berasal dari Bahasa Jepang yang artinya adalah jujur, kejujuran hati.

Di Naoki Chicken and Café Kalasan, terdapat beragam menu olahan ayam goreng krispy yang disajikan dengan rasa yang sangat lezat. Dan tentunya dengan harga yang sangat terjangkau. Untuk paket Ayam goreng krispy sayap atau paha bawah plus nasi putih dan es teh hanya seharga Rp 8.000,- saja lho. Dan masih ada beragam paket lainnya yang juga tak kalah terjangkau.

320190406_183501
Wahyu menikmati Strawberry Milkshake.

Selain menyediakan menu ayam goreng krispy, Naoki Chicken and Café Kalasan juga menyediakan menu ayam geprek yang bisa dipilih level kepedasannya, burger, kentang goreng (French fries), beraneka milkshake, dan juice sari buah. Ke depannya juga akan dilengkapi dengan menu ayam bakar, chicken steak, dan es buah. Dan khusus pada periode promo Opening Ceremony pada tanggal 1 hingga 14 April 2019, Naoki Chicken and Café Kalasan memberikan harga menarik untuk paket Ayam goreng krispy sayap atau paha bawah plus nasi putih dan es teh hanya menjadi Rp 6.000,- saja lho. Menarik banget.

Naoki Chicken and Café Kalasan juga melengkapi fasilitas ruangan dengan WiFi gratis yang bisa dinikmati oleh pengunjung, yang mulai melayani pelanggan mulai dari pukul 09:00 WIB pagi hingga pukul 21:00 WIB malam.

7IMG-20190406-WA0019
Wahyu bersama sahabat Wahyu, kak Prima Hapsari.

Untuk Wahyu, menu juara dari Naoki Chicken and Café Kalasan adalah ayam gepreknya. Bumbunya pas, tidak terlalu asin, dan sambal gepreknya juga meresap sempurna ke dalam daging ayamnya. Juara banget dech.

620190406_185958
Menu Ayam Geprek dari Naoki Chicken and Cafe Kalasan yang menjadi juara.

Wahyu sangat merekomendasikan Naoki Chicken and Café Kalasan ini untuk kamu yang sedang merasa sangat kelaparan, terutama setelah berkunjung ke Candi Prambanan. Dengan rasanya yang lezat, dan harga yang sangat terjangkau, Naoki Chicken and Café Kalasan ini sangat Wahyu rekomendasikan untuk kamu kunjungi.

Naoki Chicken and Café Kalasan
Jalan Raya Solo-Yogyakarta Km. 14, Glondong, Tirtomartani,
Kalasan, Kabupaten Sleman
Instagram : @naoki_chicken_cafe