gaya hidup, perjalanan, Review, travelling

GatheringPositif Bermedia Sosial dari Gerakan Nasional Revolusi Mental 2019

20190520_104843
Wahyu saat mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial 2019. (Dokumentasi pribadi)

Halo, kawan. Lama juga ya kita tidak berjumpa. Kali ini, Wahyu ingin bercerita kepada kamu semua, bahwa Wahyu baru saja mengikuti sebuah acara yang keren banget. Jadi pada hari Senin, 20 Mei 2019 yang lalu, Wahyu berkesempatan untuk mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Tepatnya acara ini diadakan di Pendopo Utama Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Acara yang bertema “Pembangunan Karakter yang Berwawasan Budaya Menuju Indonesia Mandiri” ini mengundang banyak pelaku digital yang berasal dari generasi muda yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti menghadirkan para penggiat komunitas, blogger, vlogger, netizen aktif generasi muda, serta para penggiat media sosial. Acara ini dipandu oleh seorang MC senior dari Yogyakarta, yaitu mas Anang Batas. Oh ya, dalam kesempatan ini, Wahyu bersama dengan seorang kawan bernama Prima, hadir mewakili dari profesi blogger, karena Wahyu mendapatkan undangan dari Blogger Crony Community, dimana Wahyu dan Prima tergabung di dalamnya sebagai anggota.

IMG-20190520-WA0047
Para Pembicara berfoto bersama beberapa peserta. (Dokumen GNRM)

Pada acara ini terdapat segmen bincang-bincang (talkshow) yang menghadirkan empat orang pembicara, yang kesemuanya mengajak para peserta untuk tetap bijak dalam menggunakan media sosial, baik itu Twitter, Facebook, Instagram, blog, vlog, dan sebagainya. Pembicara pertama adalah GKR Hayu, yang bertindak selaku penghageng Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi yang ada di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang bertugas menangani urusan IT dan dokumentasi. Beliau membawakan tema “Mengenali Jati Diri Warisan Budaya dan Kiprah Kasultanan di Era Milenial”. Salah satu pesan yang beliau sampaikan adalah “Modernisasi itu tidak selalu berarti Westernisasi. Budaya Jawa juga bisa Modern”.

Pembicara kedua adalah ibu Tri Mumpuni, Anggota Gugus Tugas Nasional GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang memaparkan tema Aksi Nyata Revolusi Mental : Menjaga Hati. Pembicara ketiga adalah bapak Wahyu Aji, yang merupakan CEO Good News From Indonesia, serta bapak Noudhy Valdryno, Facebook Indonesia, yang menjadi pembicara keempat. Kedua pembicara berpesan untuk tetap menggunakan media sosial secara positif untuk keberlangsungan Indonesia yang lebih baik. Keempat pembicara ini dipandu oleh bapak Said Hasibuan dari Relawan TIK selaku moderator. Segmen bincang-bincang ini berlangsung seru, karena di antara pembicara dan peserta terlibat sebuah diskusi yang hangat, yang sama-sama sepakat untuk menggunakan media social secara bijak dan positif demi keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Setelah acara bincang-bincang, para peserta disuguhi sajian Tari Salak yang merupakan tari kreasi baru yang menggambarkan tentang Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi, yang identik dengan perkebunan salak. Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yang semuanya dinamai dengan tiga prinsip dasar Gerakan Nasional Revolusi Mental, yakni Integritas, Etos Kerjam dan Gotong Royong, yang kemudian peserta dipersilakan untuk menikmati beragam kegiatan yang ada di dalam Paket Wisata Desa Wisata Pulesari Wonokerto ini, yakni Kegiatan Susur Desa (Field Trip), Kegiatan menikmati Permainan Rakyat, dan mengikuti Kegiatan Olahraga Tradisional.

Karena Wahyu termasuk di dalam kelompok Etos Kerja, maka kelompok Etos Kerja mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Olahraga Tradisional, kemudian kegiatan Permainan Rakyat, dan terakhir adalah kegiatan Susur Desa. Untuk kelompok lain seperti kelompok Integritas dan kelompok Gotong Royong, kegiatannya sama persis, hanya urutannya saja yang berbeda.

IMG-20190521-WA0000
Wahyu dan beberapa peserta tengah mencoba melakukan Jemparingan. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan menikmati Olahraga Tradisional diawali dengan mengikuti aktifitas olahraga Jemparingan, yang mirip dengan panahan. Yang membedakan adalah Jemparingan merupakan aktifitas olahraga panahan yang menggunakan peraturan dan tata cara khas Jawa, yang di antaranya seperti penggunaan pakaian tradisional Jawa (seperti beskap untuk pria, dan kebaya untuk wanita), kegiatan Jemparingan yang dilakukan dalam posisi duduk bersila, bahan busur (jemparing) yang terbuat dari material kayu. Walaupun Wahyu pernah melakukan kegiatan panahan sebelumnya, ternyata melakukan Jemparingan ini terasa perbedaannya. Ternyata busur dan tali busurnya itu sangat berat untuk ditarik. Sebuah tantangan yang mengasyikkan. Kemudian setelah melakukan Jemparingan, peserta diajak untuk menikmati atraksi pencak silat dari Kelompok Satria Tama, yang berasal dari Desa Wonokerto, yang dimana pencak silat merupakan olahraga asli Indonesia tercinta.

20190520_141024
Beberapa anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto tengah melakukan permainan rakyat, dengan menggunakan busana tradisional. (Dokumentasi pribadi)

Kegiatan kedua adalah menikmati kegiatan Permainan Rakyat, seperti egrang, dakon, bakiak, telepon benang, dan sebagainya. Kegiatan ini dipandu oleh kakak-kakak dari Komunitas Kampoeng Hompimpa, sebuah komunitas yang peduli pada kelestarian permainan rakyat Indonesia yang hadir dari keprihatinan melihat generasi muda dan anak-anak Indonesia yang menghabiskan waktunya lebih banyak menggunakan gawai (gadget) daripada bermain secara langsung di dunia nyata. Permainan rakyat ini diperagakan oleh anak-anak warga Desa Wisata Pulesari Wonokerto dalam balutan pakaian tradisional. Sungguh menyenangkan bagi Wahyu, ketika melihat beragam permainan rakyat Indonesia ini dimainkan, menjadi semacam pemutaran memori mengenang masa lalu saat Wahyu masih anak-anak di era ‘90an.

A
Wahyu saat mengikuti kegiatan Susur Desa. (Foto oleh Ang Tek Khun)

Kegiatan terakhir adalah kegiatan Susur Desa, yang terdiri atas menyusuri sungai-sungai kecil yang ada di Pulesari yang kemudian menyusuri area perkebunan salak, yang kemudian mendapatkan oleh-oleh olahan salak yang merupakan sajian khas dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto. Kegiatan Susur Desa ini dimaksudkan agar para peserta dapat menikmati keindahan panorama alam yang ada, dan semakin meningkatkan kembali kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Oh ya, saat Wahyu pulang, Wahyu dan peserta lain mendapatkan goody bag yang salah satu isinya adalah sedotan stainless steel, yang merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan dengan mengurangi sampah sedotan plastik. Keren banget ya tujuannya. Dan ketiga kegiatan tersebut sama-sama bertujuan positif, yang sesuai dengan tema Revolusi Mental semua ya, kawan.

Demikianlah secuplik cerita Wahyu selama mengikuti acara Gathering Positif Bermedia Sosial yang diadakan oleh Kemenko PMK RI (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental), yang berlokasi di Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman yang lalu. Wahyu ingin mengucapkan terima kasih kepada Blogger Crony Community atas undangannya, terima kasih pula kepada Kemenko PMK RI dan GNRM yang sudah mengadakan acara bagus nan keren ini. Wahyu juga ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang sudah meluangkan waktu untuk menyimak cerita Wahyu kali ini. Kita berjumpa di cerita Wahyu berikutnya ya.

gaya hidup, Kuliner, Review

Sate Ratu, Sate Ayam Endol Markendol di Jogja

20180914_170637

Ahay…..Wahyu akhirnya berkesempatan menikmati lagi sate ayam yang endol markendol di Jogja Paradise Food Court, Jalan Magelang, yang adalah Sate Ratu. Terakhir Wahyu menikmati Sate Ratu itu ketika masih bulan Ramadan, sekitar 3 bulan lalu. Wahyu berkesempatan menikmati lezatnya Sate Ratu bersamaan dengan beberapa teman blogger influencer Yogyakarta, yaitu Mak Lusi, Miss Mini, dan Aris Travelingbae.

Pak Budi, pemilik sekaligus pengelola Sate Ratu, yang secara langsung menyambut kami di gerai Sate Ratu. FYI, mulai 3 Agustus 2018 yang lalu, lokasi gerai Sate Ratu sudah berpindah. Masih sama-sama di Jogja Paradise Food Court, hanya saja sudah berpindah ke area dalam, di dekat area parkir besar, Musholla dan panggung Jogja Paradise. Sebelumnya, Sate Ratu berlokasi di bagian depan, tepat di area parkir depan Jogja Paradise ini.

IMG-20180917-WA0017
Ki-Ka: Miss Mini, Pak Budi, Aris Travelingbae, Mak Lusi, dan Mr. Wahyu Prasetya.

 

Sate Ratu yang Highly Recommended

Pak Budi bercerita kepada kami tentang sejarah dan awal mula beliau dan istri, Bu Maria, mengelola Sate Ratu ini. Awalnya, Pak Budi adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan pengelola industri hiburan di Indonesia. Sampai pada suatu masa, pada tahun 2008, beliau memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan dan kemudian beralih profesi menjadi konsultan untuk perusahaan yang sama. Beliau menyebut keputusan beliau sebagai pertobatan pertama.

IMG-20180917-WA0005

Seiring berjalannya waktu, beliau melakukan pertobatan kedua, dengan resign dari perusahaan tersebut, untuk beralih ke perusahaan lain, masih di bidang yang sama di dunia hiburan, sama-sama posisinya sebagai konsultan. Pada sekitar awal tahun 2015, karena memang panggilan jiwa beliau sebagai wirausahawan, beliau melakukan pertobatan ketiga dengan berhenti total dari perusahaan yang terakhir, dan mendirikan rumah makan Angkringan Ratu yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, sebelah timurnya Galeria Mall Yogyakarta.

Pak Budi bersama beberapa rekannya mengelola Angkringan Ratu yang berkonsep angkringan, namun dengan produk yang mempunyai rasa dan tampilan premium. Itulah kenapa angkringan mereka disematkan kata Ratu yang berkaitan erat dengan konsep bangsawan, mewah, dan glamour. Angkringan Ratu mempunyai beragam menu khas angkringan seperti nasi kucing oseng tempe, nasi kucing sambal teri, dan 20 macam sate. Namun karena satu dan lain hal, Angkringan Ratu tidak berkembang dengan baik. Rekan bisnis beliau pun akhirnya memutuskan untuk hengkang. Angkringan Ratu pun terpaksa harus berhenti beroperasi secara permanen setelah mencoba bertahan dari Juli 2015 sampai Februari 2016.

Walau bagaimanapun juga, Pak Budi harus melanjutkan hidup kan ya. Pak Budi memutuskan untuk membesarkan dua menu yang paling laku dari Angkringan Ratu, yaitu Sate Lilit dan Sate Merah dengan mendirikan Sate Ratu, berlokasi di Jogja Paradise pada Maret 2016. Sebagai seorang wirausahawan, Pak Budi bertekad untuk membesarkan Sate Ratu dengan berfokus hanya pada dua menu tersebut, dengan dua menu sampingan yaitu Ceker Tugel dan Bumbu Sate Merah. Dan ternyata Sate Ratu mampu bertahan dan menjadi pilihan kuliner utama terfavorit di Jogja Paradise.

20180914_165048
Lilit Basah, endol markendol dengan kuah nyemek.

Oh ya, mulai 1 Juni 2018, Sate Lilit diubah konsepnya menjadi Lilit Basah. Tetap dengan adonan ayam lezat yang sama. Bukan lagi berbentuk sate ayam lilit ala Bali yang dipanggang dengan pegangan kayu, namun adonan ayam berbumbu berbentuk persegi panjang, dikukus dengan kuah nyemek. Modifikasi dan modernisasi sate ayam lilit yang justru sangat memanjakan lidah. Kuahnya juga endang bambang. Highly recommended. Empuk, lezat.

Favorit saya adalah Sate Merah yang merupakan sate ayam yang potongan dagingnya besar-besar, dengan bumbu rahasia Sate Ratu yang dominan berwarna merah, berbeda seperti sate ayam lainnya. Berbeda, namun sangat lezat. Endol markendol. Teksturnya lembut, juicy. Bumbunya juga terserap sempurna di setiap helaian serat dagingnya. Walau potongannya gede-gede, daging ayam Sate Merah dijamin ga bakalan nyelip di gigi.

Bumbu rahasia Sate Merah tidak didominasi saus kacang seperti sate ayam kebanyakan, melainkan didominasi olahan cabai merah yang membuat Sate Merah terasa agak pedas, namun tetap lezat. Untuk orang yang lidahnya ga begitu tahan dengan makanan pedas seperti saya, Sate Merah masih bisa saya toleransi. Sensasi pedasnya terkalahkan dengan kelembutan dan kelezatan yang dimiliki oleh sate ayamnya.

IMG-20180917-WA0018aaa
Sate Merah, menu best-seller dari Sate Ratu.

Dan selain saya, kawan-kawan saya sesama blogger influencer Jogja juga memfavoritkan Sate Merah ini. Pak Budi menceritakan bahwa beliau membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mendapatkan formula yang tepat untuk menemukan bumbu rahasia Sate Merah. Dan usaha beliau membuahkan hasil yang manis, Sate Merah menjadi menu favorit para customer Sate Ratu. Baik customer dari dalam negeri, maupun dari manca negara.

 

Sate Ratu dan Prestasinya

Kawan, Sate Ratu ini ternyata sudah dikunjungi oleh lebih dari 2500 tamu yang berasal dari 67 negara lho. Hebat ya. Jadi ceritanya, Pak Budi ini mempunyai cita-cita agar Sate Ratu bisa dinikmati oleh semua orang dari berbagai negara yang berkunjung ke Yogyakarta. Beliau tadinya tidak menyangka kalau the power of word of mouth benar-benar akan terjadi di gerai kuliner beliau. Beberapa turis dan ekspatriat yang tinggal di Jogja yang sudah menikmati Sate Ratu, kembali lagi mengajak teman-teman mereka ke Sate Ratu. Atau mereka bercerita ke rekan-rekan mereka setelah menikmati Sate Ratu, yang kemudian merekomendasikan untuk mengunjungi Sate Ratu. Dan begitu seterusnya.

Kalau kamu berkunjung ke Sate Ratu, di sisi dinding sebelah barat, tertera beragam testimoni tentang kelezatan Sate Ratu oleh para pengunjungnya dari berbagai negara, lengkap beserta foto-foto orangnya. Keren kan?

Selain itu, Sate Ratu telah menyabet beragam gelar bergengsi di bidang kuliner, baik tingkat lokal, maupun nasional. Penghargaan pertama yang diraih adalah Certicate Of Excellence tahun 2017 dari aplikasi TripAdvisor. Penghargaan lain yang pernah diraih oleh Sate ratu berturut-turut adalah Finalis Bango Penerus Warisan Kuliner 2018, Indonesia Awards for Excellent of Restaurant 2018, BeKraf Food Startup Indonesia 2018, dan mendapatkan lagi Certicate Of Excellence tahun 2018 dari aplikasi TripAdvisor.

IMG-20180915-WA0003

Dari kesemua prestasinya, Pak Budi sempat bercerita kepada kami mengenai keseruan perjalanan Sate Ratu saat mengkuti Bango Penerus Warisan Kuliner 2018 dan BeKraf Food Startup Indonesia 2018. Seru banget. Seseru rasa Sate Merah di lidah saya.

Jadi, kawan, kalau kamu pengin menikmati Sate Merah atau Lilit Basah yang menggoyang lidahmu, plus mendapatkan keseruan cerita perjalanan bisnis Sate Ratu langsung dari pemiliknya, kamu bisa datang langsung ke Jogja Paradise, lalu masuk ke gerai Sate Ratu ya. Kamu pasti penasaran kan dengan rasa Sate Ratu dan keseruan cerita di baliknya?

 

Sate Ratu
Jogja Paradise Food Court, Jalan Magelang Km. 6
WhatsApp : +62 8155556666
Jam Buka : Senin s/d Sabtu, 11:00 s/d 21:00 WIB
Website : https://sateratu.id
Tripadvisor : https://www.tripadvisor.co.id/Restaurant_Review-g294230-d10097318-Reviews-Sate_Ratu-Yogyakarta_Java.html
Social Media : https://www.facebook.com/SateRatuJogja
Twitter @sateratujogja
Instagram: @sateratu

Price List:
Lilit Basah Rp. 23.000,-
Sate Merah  Rp. 23.000,-
Ceker Tugel Rp. 23.000,-

Galeri:

gaya hidup, Review

Bale Kuda Stable, Berkuda dan Bergembira

IMG-20180826-WA0108
Saya bersama Putri Pertiwi, salah satu kuda cantik yang ada di Bale Kuda Stable, sesaat sebelum saya tunggangi.

Jujur. Bagi saya, kuda adalah salah satu hewan yang asing. Karena masa kecil saya memang jarang sekali berinteraksi dengan kuda. Kuda dalam arti sebenarnya ya, kawan. Bukan kuda kayu, bukan kuda dalam komidi putar atau odong-odong, bukan pula kuda lumping. Melainkan kuda betulan. Iya, hewan berkaki empat yang biasa dipakai untuk menarik delman atau pun kereta kencana seperti yang ada di istana kerajaan-kerajaan itu.

Memang saat saya kecil, saya pernah beberapa kali naik delman. Posisi duduk favorit saya adalah di samping kusir pengendali delman. Persis sebagaimana yang tercantum pada lirik sebuah lagu anak-anak popular “Naik Delman” gubahan Ibu Soed. Pada posisi tersebut, saya dapat melihat kuda dari jarak sangat dekat, namun bukan berarti saya berinteraksi dengan kuda tersebut ya. Praktis, bagi saya, kuda memang sebuah spesies hewan yang asing. Bukan hewan yang bisa saya temui dengan mudah dalam kehidupan saya sehari-hari.

Maka dari itu, sepanjang usia, saya tidak pernah menunggangi kuda. Menyentuh saja belum pernah, apalagi menunggangi kuda tepat di atas punggungnya. Sebagaimana yang jamak terjadi pada adegan sinetron laga kolosal di televisi, atau pun pada cerita-cerita berlatar belakang dunia koboy yang sangat maskulin itu. Atau mungkin seperti pangeran di dalam cerita fairytale yang ditampilkan tengah menunggangi kuda putih. Hampir tidak mungkin bagi saya bisa berkuda sebagaimana atlet Larasati Gading -yang tengah berlaga di ajang Asian Games 2018 itu.

Ibu saya pernah bercerita kepada saya bahwa saat beliau masih kecil, beliau pernah menunggang kuda, yang diajarkan oleh kakek beliau (yang mana adalah kakek buyut saya). Bagi saya –setelah mendengarkan cerita ibu saya- dapat duduk dengan tenang di atas seekor kuda, sembari mengendalikan sang kuda tersebut adalah sebuah hal yang mengagumkan. Tapi apa mau dikata, berkuda adalah aktifitas yang masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Iya kan, kawan?

Petualangan Berkuda di Bale Kuda Stable

Iya, berkuda memang bukan aktifitas yang mudah dilakukan di Indonesia, termasuk di Yogyakarta. Apalagi dalam benak saya, aktifitas berkuda adalah sesuatu yang mewah dan mahal. Bayangkan, satu ekor kuda saja bisa dihargai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Mahal. Belum juga dengan perawatan, pemeliharaan, makanan, nutrisinya, dan banyak hal lainnya. Namanya juga mahluk hidup, pasti akan ada banyak sekali kebutuhannya.

Namun bukan berarti bahwa berkuda tidak dapat dilakukan sama sekali, kawan. Tenang saja. Karena pada hari Minggu, 26 Agustus 2018 yang lalu, saya berkesempatan untuk menunggang kuda di Bale Kuda Stable, Yogyakarta.

IMG-20180826-WA0153
Suasana Bale Kuda Stable, dilihat dari salah satu sudut. Terlihat sejuk dan nyaman ya, kawan.

Jadi ceritanya, saya dan beberapa travel blogger Jogja mendapatkan undangan untuk berkunjung ke Bale Kuda Stable, sebuah destinasi wisata berkuda yang berada di daerah Cebongan, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Sekitar 25 menit berkendara dari kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta ke arah barat. Destinasi wisata berkuda semacam ini di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) sepertinya masih dalam hitungan jari, masih sangat jarang. Berbeda dengan destinasi wisata kuliner, taman, dan pantai yang di DIY yang seperti lapisan biskuit wafer. Ratusan, bahkan lebih. Namun khusus untuk wisata berkuda di DIY, mungkin hanya ada empat. Dan Bale Kuda Stable adalah salah satunya.

Tentu saja saya dan teman-teman saya yang blogger tersebut sangat antusias untuk menghadiri undangan ini. Beberapa dari kami memang belum pernah menunggangi kuda. Sehingga kesempatan untuk pertama kalinya menunggang kuda secara langsung, akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat mengesankan bagi kami. Petualangan baru gitu dech.

Kami semua berkumpul di Bale Kuda Stable pada pukul 09:00 WIB, yang langsung disambut oleh pengelola sekaligus pemiliknya, yakni mba Ririn Vidyaningsih. Mba Ririn mengelola Bale Kuda Stable ini bersama suaminya, mas Agung, ditemani beberapa karyawannya. Dan khusus untuk hari Minggu, putra mereka, mas Tangguh, juga diajak untuk merawat kuda-kuda milik mereka. Mereka berdua mempunyai empat ekor kuda, yang kesemuanya betina, namun sangat gagah. Gagah namun juga cantik. Nah bingung kan? Hehe. Lady Damli, Putri Pertiwi, Dewi Merapi, dan Jelita adalah nama-nama dari kuda yang mereka miliki. Namun pada hari itu, hanya Jelita saja yang masih berada di istal, karena Jelita merupakan kuda yang baru. Istilahnya semacam karyawan dalam masa probation, hehe. Sementara untuk tiga kuda yang lain sudah dilepas di area paddock.

Setelah berbincang beberapa saat dengan mba Ririn, kami pun dipersilakan untuk mencoba menunggangi kuda-kuda yang ada satu per satu. Setelah melakukan beberapa koordinasi dengan teman-teman, termasuk melakukan suit untuk menentukan giliran berkuda, akhirnya diputuskan bahwa saya mendapat giliran pertama untuk menunggang kuda. Saat saya memasuki paddock, mas Agung memilihkan Putri Pertiwi untuk saya tunggangi, karena Putri Pertiwi merupakan kuda paling kuat dan paling besar dibandingkan dengan yang lain. Tentu saja saya dipilihkan kuda terkuat, karena di antara kami semua yang diundang, sayalah yang paling besar dan paling tinggi, dan tentunya jadi yang paling berat juga sih, haha.

Beberapa saat sebelumnya, mba Ririn memberikan briefing kepada kami semua mengenai tips dan trick untuk merebut hati kuda, termasuk hal-hal yang tidak diperbolehkan. Semisal seperti: harus tetap tenang, kalem, mengelus dengan lembut, jangan melakukan gerakan mengejutkan, dan jangan pula berada tepat di belakang kuda, melainkan berada di samping –karena bisa ditendang cuy, haha. Asli, saya deg-degan banget ketika harus menyentuh Putri Pertiwi, apalagi ketika harus mulai memasukkan kaki kiri terlebih dahulu pada pelana. Untung mas Agung dan mas Tangguh meyakinkan saya untuk tetap tenang. Walhasil, saya pun berhasil naik di punggung Putri dengan mulus, nyaris tanpa drama apa pun, seperti yang saya khawatirkan sebelumnya.

Saya dan Putri –tentunya dengan panduan dari mas Tangguh- pun kemudian berjalan menyusuri paddock, untuk kemudian berjalan menyusuri Sungai Nglarang di sekitar Bale Kuda Stable. Mas Tangguh mengatakan kepada saya bahwa Putri sudah cukup dewasa, usianya sudah tiga belas tahun. Usia yang sudah cukup matang untuk ukuran kuda.

IMG-20180826-WA0094
Saya dan Putri Pertiwi ketika sedang menyusuri Sungai Nglarang, di sebelah area paddock Bale Kuda Stable. Foto ini diambil sesaat sebelum Putri Pertiwi bermain-main air.

Saat berada di area sungai, mas Tangguh meminta saya untuk mengendarai Putri sendirian. Dan tahukah kamu apa yang terjadi, kawan? Putri sempat bergerak-gerak sendiri. Bukan karena Putri merasa kalau saya orangnya cuma sok-sokan tenang ya, bukan. Tapi karena Putri ingin bermain-main dengan air. Kaki kanan depannya dia goyang-goyangkan, kemudian dia tendang-tendang kakinya tersebut ke arah air sungai. Jadinya sepatu dan celana saya basah semua, kawan, hahaha. Usil juga ya si Putri ini, suka ngerjain, mirip persis seperti saya.

Setelah selesai menyusuri sungai, kami pun kembali ke paddock. Beberapa teman blogger sedang menunggu antrean dengan bermain panahan. Jadi, di Bale Kuda Stable ini, kamu tidak akan merasa bosan, kawan. Karena sembari kamu menunggu giliranmu naik kuda, kamu bisa bermain panahan lho. Lalu kamu juga bisa berinteraksi dengan Jelita di istal. Jelita ini punya hobi menciumi manusia lho, hehe.

Awe 023
Salah seorang sahabat blogger saya, Mak Vera, tampak tengah asyik berinteraksi dengan Jelita, yang ada di dalam istal Bale Kuda Stable. Jelita ini suka menciumi manusia lho. Rasanya geli-geli gimana gitu, hahaha.

Kemudian setelah memasuki paddock, saya pun turun dari punggung Putri dengan mudah dan riang gembira. Tentu saja, karena saya sudah diajak bergembira bersama dengan Putri ini.

Mba Ririn mengatakan kepada kami bahwa olahraga berkuda ini sangat banyak manfaatnya. Salah satunya dapat membantu menstabilkan tekanan darah, sebagaimana yang sering disebut oleh pakar kesehatan internasional, Dr. Oz. Jadi, kalau kamu merasa tekanan darahmu gampang naik (apalagi kalau ketemu mantan), kamu bisa menstabilkan tekanan darahmu dengan berkuda, kawan. Berkuda juga mampu membantu konsentrasi dan menseimbangkan emosi jiwa. Jadi kalau kamu orangnya gampang marah, gampang sedih, mood swinger, apalagi saat di suggestion Instagram muncul foto mantanmu –cukup Wahyu, aku bilang cukup-, sebaiknya kamu juga kudu ke Bale Kuda Stable ini untuk berkuda, kawan.

Selain itu, karena dengan berkuda mampu memberikan sugesti positif kepada anak berkebutuhan khusus autisme untuk mengendalikan emosi dan konsentrasi, maka banyak ahli kesehatan melakukan terapi kepada anak berkebutuhan khusus autisme dengan berkuda. Wah, ternyata berkuda itu banyak manfaatnya ya, kawan. Oh iya, Rasulullah aja punya hobi berkuda lho, kawan.

Mba Ririn bercerita kalau Bale Kuda Stable ini memang terhitung masih baru. Mereka baru beroperasi mulai Januari 2017, jadi belum ada 2 tahun, namun mereka pernah beberapa kali diliput oleh media, baik cetak maupun elektronik, baik lokal maupun nasional. Bahkan sebuah acara travelling terkenal My Trip, My Adventure pun pernah mengambil gambar di sana lho, kawan. Dan rencananya, mba Ririn dan mas Agung akan memperluas area berkudanya, serta menambah jumlah kuda, yang otomatis akan semakin memanjakan kita saat berkunjung ke sana. Duh…jadi makin penasaran akan seperti apa nantinya.

Oh ya untuk price list, kamu ga usah khawatir, kawan. Bale Kuda Stable memberikan pilihan harga yang sangat ramah di kantong. Untuk dua kali putaran mengitari paddock hanya seharga Rp 20.000,-; ditambah dengan menyusuri sungai hanya Rp 75.000,-. Paket termahal seharga Rp 250.000,- yang mencakup berkuda menyusuri Kawasan Selokan Mataram Cebongan, plus susur Sungai Nglarang, dengan durasi sekitar satu jam. Jadi, sebenarnya, untuk bergembira bersama dengan menunggang kuda tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Kamu bisa memilih paket yang ditawarkan oleh Bale Kuda Stable yang sesuai dengan keinginan kamu.

DSC_0072
Mas Agung dan mas Tangguh, ayah dan anak yang begitu mencintai kuda. Merawat kuda-kuda tersebut dengan cinta dan kasih sayang.

Bale Kuda Stable juga buka setiap hari mulai pukul 07:00 WIB pagi sampai pukul 17:00 WIB sore. Bisa kamu puas-puasin dech tuh mengelus-elus Lady Damli, Putri Pertiwi, dan Dewi Merapi, atau bercanda ria dengan Jelita. Apalagi mba Ririn dan mas Agung merawat kuda-kuda mereka penuh dengan cinta dan kasih sayang, jadi kuda-kuda mereka ini pun akan mengerti dan menerjemahkan arti bahasa cinta yang kau tebarkan kepada mereka, ceilah….(ngomong opo kowe, Wahyu).

Begitu saya pulang, saya mengirim WA ke mba Ririn kalau saya belum bisa move on dari (mantan, iya sih kalau ini), maksud saya, belum bisa move on dari Putri Pertiwi. Saya masih pengin ke sana dan ngelus-elus Putri lagi. Besok-besok dech kalau keluarga saya ke Jogja lagi, Insha Allah akan saya ajak ke Bale Kuda Stable. Kamu juga jadi pengin berkuda juga kan, kawan? Makanya, saya sarankan kamu untuk ke Bale Kuda Stable aja, kawan. Karena kamu bisa merasakan sensasi #bukanberKUDAbiasa sembari bergembira ria di sana.

Awe 022 a
Para travel blogger Jogja berfoto bersama mba Ririn, pemilik dan pengelola Bale Kuda Stable, minus Mak Vera yang udah pulang duluan karena sudah ada agenda lain. (Kiri ke Kanan: Awe Tsamma, Nova Aristanto, Ririn Vidyaningsih, Juno Agi Tiara, Ipeh Iffa, Agustina Tinbe, Wahyu Prasetya, dan Priyo Harjiyono)

Tungguin petualangan saya berikutnya ya, kawan. Siapa tahu, nanti kamu jadi tertarik menemani saya berpetualang, hehe. Terima kasih…….

 

Bale Kuda Stable
Jl. Sidomoyo – Cebongan Dusun Simping Janturan,
RT.005/RW.13, Tirtoadi, Kecamatan Mlati,
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55287
Reservasi : +62 878 3958 0689
Instagram : @balekudastable